Eddy Soeparno

Tantangan dalam Membangun Indonesia yang Berkemajuan

Melihat pada fakta yang ada di lapangan, Indonesia saat ini dihadapkan dengan pekerjaan rumah yang berat. Jumlah warga yang berada di bawah garis kemiskinan masih di kisaran hampir 30 juta jiwa dari total penduduk di Indonesia, tepatnya 28, 59 juta. Menurut BPS pada tahun 2015, angka tersebut bertambah 860 ribu jiwa dibanding tahun sebelumnya. Hal itu membuat kesenjangan antara yang miskin dengan yang berduit semakin menganga. Bangsa Indonesia, merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam berlimpah namun kesejahteraan warganya belum merata dan potensi konflik horizontal juga masih terbilang tinggi.

Pada dasarnya, kita sudah menjalankan sistem demokrasi untuk memastikan agar proses pengambilan kebijakan tidak hanya didominasi oleh para elit atas. Demokrasi yang sehat memastikan suara-suara rakyat dan masyarakat marjinal diakomodasi bahkan bisa mempengaruhi kebijakan, sehingga lebih berpihak pada ekonomi rakyat.

Namun, problem demokrasi saat ini adalah sebagian elite dan aktor politik, dari pusat hingga daerah, terjebak pada politik transaksional dan praktik korupsi. Tetapi pada nyatanya, yang kita lihat saat ini adalah makin menguatnya perilaku korup para pemimpin. Perilaku korup inilah yang kerap menjadi salah satu penyumbang terbesar bertambah kompleksnya kemiskinan dan keterbelakangan di Indonesia.

Dalam melihat permasalahan tersebut, tentu kita harus tetap optimis ke depannya, bukan hanya sekedar mengeluh dan menyalahkan keadaan. Dibutuhkan beberapa langkah untuk memberikan optimisme kepada masyarakat untuk membangun Indonesia berkemajuan.

Pertama, dibutuhkan kemandirian warga untuk menghadapi segala perbedaan. Dibutuhkan masyarakat dengan tangan terbuka, menghilangkan prasangka, tanpa adanya tindakan kekerasan apa pun jenisnya, apalagi yang mengarah pada fisik yang berujung pada kematian. Untuk itu, diharapkan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk membangun nilai-nilai toleransi dengan tetap memegang teguh ajaran religius kita untuk menyelesaikan permasalahan melalui kepala yang dingin.

Kedua, membangun ruang yang saling berhubungan diantara kaum mayoritas dan minoritas untuk menjamin adanya keterwakilan di ruang-ruang pengambilan keputusan. Menyampaikan suara dan aspirasi dari seluruh komponen masyarakat dalam kerangka politik yang semakin demokratis dan terstruktur dengan baik.

Ketiga, pemerataan. Sebagaimana amanat Pancasila, dalam sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Persoalan kesejahteraan, penegakan hukum, dan pemerataan sosial ekonomi yang timpang dan seringkali tebang pilih antara satu dengan yang lain yang memunculkan kesenjangan antarkelompok, baik karena berbeda etnis, agama, keyakinan, budaya dan lainnya.

Untuk itu, pemerataan menjamin seluruh setiap warga bangsa untuk mendapatkan hak dan kewajiban secara proporsional. Di sinilah menurut hemat saya, politik akan dapat mewujudkan kesejahteraan warga dengan tumbuhnya kualitas manusia Indonesia yang lebih baik.

Indonesia saat ini dan ke depan diharapkan menjadi Indonesia yang berkemajuan. Mari kita perkuat fungsi negara dan agenda-agenda pembangunan tanpa mengorbankan nilai-nilai dan pilar-pilar demokrasi dan hak-hal sipil yang tujuannya adalah mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Indonesia yang berkemajuan.