Eddy Soeparno

Ramadhan Momentum Rekonsiliasi Nasional

Panorama pemandangan religius masyarakat Indonesia di bulan Ramadhan begitu terpancar di berbagai sudut kehidupan mulai dari fajar muncul hingga malam. Kuantitas ibadah masyarakat pun semakin meningkat.

Momentum Ramadhan merupakan media pembelajaran dalam memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan melalui toleransi antara umat beragama yang dilandasi semangat kebangsaan sehingga tradisi dan suasana kehangatan Ramadhan tidak hanya dirasakan oleh umat beragama Islam, tetapi juga seluruh masyarakat lintas etnik dan agama.

Hari-hari di sepanjang bulan Ramadhan sebaiknya dijadikan momentum untuk rekonsiliasi nasional sekaligus meneguhkan semangat kebangsaan pada masyarakat. Dalam suasana Ramadhan, ada baiknya jika toleransi dijadikan sebagai hal utama yang dapat memperkokoh tali kebangsaan dan tali kemanusiaan. Toleransi yang tinggi diharapkan dapat menjadikan bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan, sehingga tidak ada lagi kebencian dan kekerasan antar umat beragama.

Sekretaris Jenderal DPP PAN Eddy Soeparno menjelaskan sesaat menjelang bulan Ramadhan, bangsa Indonesia masih berjibaku menguras energi untuk menyamakan persepsi tentang agama dan kebangsaan. Awal puasa tahun ini, ditetapkan bersamaan. Tidak ada lagi perbedaan hari dalam mengawali puasa. Kebersamaan ini diharapkan juga menjadi simbol pemersatu.

Eddy mengajak untuk jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk merajut kembali tali silaturahim dan persatuan berbangsa dan bernegara. Bulan ini tidak hanya penuh berkah dan pahala, juga menjadi bulan yang istimewa. Al-Quran turun di bulan Ramadhan, serta ada satu malam yang istimewa, yaitu malam lailatul qadar.

Menjaga persatuan ini juga dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran, QS Ali Imran ayat 103. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat-nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”

Menurut Eddy, ibadah puasa Ramadhan dengan sifat saling toleransi dan kewajiban memuliakan sesama adalah refleksi ikatan transedental yang bernilai strategis dalam memulihkan energi kebangsaan. Toleransi yang tinggi juga dapat menjadi unsur perekat dan pengikat nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

Fenomena Ramadhan harus di respon baik karena Ramadhan bukan hanya prosesi keagamaan umat Islam, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan sosial masyarakat agama lain dalam mengembangkan sikap respek terhadap umat Islam yang berpuasa. Eddy juga mengajak kita untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama, saling menghormati dan menghargai proses ibadah masing-masing umat, saling memaafkan dan saling menjaga kebhinekaan dan persatuan.

Momen Ramadhan seharusnya bukan hanya meningkatkan kualitas keislaman dengan kuantitas ibadah yang tinggi tetapi juga harus mampu meningkatkan hubungan sosial yang dilandasi kekuatan rasa persahabatan di antara sesama serta menciptakan semangat cinta damai dengan melepaskan berbagai perbedaan etnik, budaya, aliran keagamaan, serta dapat meningkatkan kualitas toleransi dan semangat kebersamaan.

[mrh]