Eddy Soeparno

Rakyat Puas dengan Kinerja Jokowi – JK di Bidang Ekonomi, Politik, dan Hukum. Benarkah?

Baru-baru ini muncul survei terkait kinerja pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebutkan, kepuasan masyarakat di bidang ekonomi, politik, dan hukum pada masa pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla. Bahkan Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan mengatakan, dengan survei itu Jokowi berpeluang kuat kembali memenangi pemilihan presiden 2019.

Tapi sebentar, benarkah itu? Bukankah justru saat pemerintahan Jokowi harga bahan pokok naik, tarif listrik dan BBM juga naik? Untuk BBM saja sudah beberapa kali mengalami kenaikan. Apakah benar rakyat puas dengan kondisi yang seperti ini? Saya pikir sih agak mustahil.

Lanjut ke hasil survei SMRC. Di bidang ekonomi, Djayadi menjelaskan, sebanyak 39,1 persen menyatakan kondisi ekonomi nasional lebih baik dibanding tahun lalu, sedangkan sebanyak 2,7 persen lainnya berpendapat kondisi ekonomi jauh lebih baik.

Selanjutnya, ada 29,3 persen masyarakat yang menilai kondisi ekonomi tahun ini tidak berubah dibanding tahun lalu, 21 persen yang berpendapat lebih buruk, dan 1 persen menilai jauh lebih buruk. Djayadi juga mengatakan, kondisi ini masih tergolong positif meskipun harus tetap diperhatikan. Pernyataan ini bagi saya agak memaksa.

Berikutnya, sebanyak 35 persen masyarakat berpendapat kondisi politik nasional dalam kondisi baik. Situasi penegakan hukum pun dipersepsi positif. Sebanyak 52 persen masyarakat menilai proses penegakan hukum berjalan baik, sedangkan 15 persen menilai buruk dan 28 persen menyebut tak ada perubahan.

Bagi saya, baik dan berhasil itu dilihat dari mana? Apakah kasus hukum Novel Baswedan yang tak kunjung selesai juga masuk dalam kategori baik? Pun jika kondisi politik nasional yang dinilai baik, apakah demo berjilid karena adanya kasus penistaan agama yang dilakukan oleh mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok itu dibilang kondusif?

Coba kita telaah baik-baik. Apakah benar survei dari SMRC ini valid dan benar adanya? Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Eddy Soeparno justru membatah hasil survei SMRC   itu.

Eddy menilai, jika dilihat dari indikator di sektor ekonomi, hasil survei tersebut bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Menurutnya fakta di lapangan justru berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh hasil survei. Karena sebagian besar masyarakat justru mengeluhkan harga kebutuhan bahan pokok yang semakin mahal.

Hal itu terjadi karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah. Selain itu, ia juga menyoroti defisit transaksi berjalan yang semakin melebar. Eddy meyakini hasil survei tersebut akan berubah dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan perubahan persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah selama masa kampanye, terutama di bidang ekonomi.

Kali ini saya sepakat dengan Eddy. Terlalu dini memang bagi survei manapun memberikan kesimpulan terhadap hasil akhir dari pilpres 2019. Saya rasa masyarakat sudah cukup cerdas kok dan tidak akan menelan mentah-mentah dengan hasil survei. Apalagi saat ini survei bisa dibeli.

Ayolah, masyarakat harus cerdas. Keadaan lapangan yang kita rasakan jauh lebih valid daripada hanya sekedar survei yang bisa dibuat dan direkayasa.

Sumber : Kompasiana