Eddy Soeparno

Politik Santun Ala Sekjen PAN

Sudah menjadi trendmark dunia, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun. Kesantunan itu terbukti dengan banyaknya warga negara asing yang berlibur di Indonesia. Kesantunan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia ternyata tidak menyeluruh mengena dalam setiap aspek kehidupan. Terutama hal-hal yang menyangkut tentang politik. Kita masih banyak melihat perilaku politisi yang kurang baik di TV. Jika sudah berdepat, para politisi pasti mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan terlebih lagi kalau yang dibicarakan menyangkut dengan kepentingan pribadi dan partainya, pasti politisi tersebut tidak dapat mengontrol dirinya dan akan keluar kata-kata kasar.

Kalau mendengar politik santun kita akan teringat oleh Presiden RI ke 6 Bapak Susilo Bambang Yudhoyono karena memang SBY lah yang selalu mendengungkan para politisi itu harus santun. Perilaku dan ucapan SBY dinilai oleh banyak pengamat sangat baik dan santun. Melihat tingkah laku para politisi banyak yang tidak santun, saya menemukan ada salah satu politisi yang santun yaitu Bapak Eddy Soeparno yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Amanat Nasional (PAN). Meski dikenal baru masuk dalam dunia politik praktis tapi Eddy Soeparno sudah biasa menjalankan politik santun.

Hal tersebut dapat kita lihat dalam bagaimana Eddy Soeparno mengkritik kinerja Ahok menyangkut masalah penggusuran di Pasar Ikan dan Kampong Pulo, Jakarta. Eddy Soeparno tidak langsung menyerang Ahok seperti para musuh-musuhnya, tapi yang Eddy Soeparno lakukan adalah membandingkan bagaimana penggusuran pada masa Jokowi menjadi Gubernur DKI dengan cara Ahok. Cara-cara santun seperti Eddy Soeparno lah yang seharusnya digunakan lawan-lawan Ahok guna menarik simpati masyarakat.

Mungkin belum lama ini kita mendengarkan ada sedikit pertentangan di media antara tokoh reformasi Bapak Prof. Amien Rais dengan Ahok. Pertama Bapak Reformasi ini mengingatkan kepada Ahok untuk tidak bertingkah laku arogan dan kadang-kadang nyeleneh, apalagi Ahok sempat ingin melawan lembaga negara yaitu BPK menyangkut kasus RS Sumber Waras. Masukan Amien Rais ini ditanggapi sinis oleh Ahok dengan mengatakan bahwa “Saya ini penerima pin reformasi dari Amien Rais, tolong tanyakan dia mungkin sudah pikun.” Statement Ahok tentang tokoh reformasi tersebut langsung dimainkan oleh pasukan nasi bungkus (Buzzer ) Ahok di social media sehingga membuat kader PAN ingin membalas statement tersebut.

Beberapa kader PAN membalas statement Ahok dengan berbagai cara ada yang mengatakan bahwa Ahok yang masih muda lupa atas reformasi 1998 yang digagas Amien Rais dengan berbagai tokoh maka Ahok bisa menjadi gubernur karena pada masa orba susah sekali menjadi gubernur. Pada masa orba pemilihan gubernur oleh DPRD provinsi bukan melalui pemilihan langsung seperti saat ini.

Beda dengan kader-kader PAN lainya, Eddy Soeparno menanggapi statement Ahok tersebut dengan tweet yang kira-kira berbunyi:

“Terimalah kritikan dengan lapang dada disertai dengan introspeksi, tidak perlu membalasnya secara agitatif seakan kebenaran hanya milikmu.”

Selain itu, Eddy Soperno juga menjelaskan apa yang disampaikan Ahok kepada tokoh reformasi itu membuktikan bahwa Ahok belum dewasa.

“Kedewasaan, kematangan dan kearifan seseorang terlihat dari caranya membawakan dirinya di hadapan publik, apalagi jika ia adalah pejabat publik.”

Eddy menilai Ahok sebagai pejabat publik tidak pantas menumpahkan kemarahannya berulang-ulang. Terlebih, hal itu dilakukan di ruang publik dengan cara yang provokatif dan agitatif.

Pernyataan santun dan berkelaslah yang selalu dijalankan Eddy Soeparno, dia tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan untuk lawan politiknya. Pembawaan yang matang dan tutur kata yang sopan menjadikan Eddy Soeparno sebagai politisi santun seperti SBY. Kelak ke depannya, penulis berharap semakin banyak politisi santun seperti Eddy Soeparno dan SBY, sehingga dunia perpolitikan Indonesia tidak gaduh guna menciptakan bangsa Indonesia yang makmur.

Oleh Marissa Firmansyah