Eddy Soeparno

Pilgub Jakarta Sebagai Barometer Perpolitikan Nasional

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta Tahun 2017 resmi diikuti sebanyak tiga pasang calon. Hal tersebut telah ditegaskan oleh Ketua KPUD DKI Jakarta Sumarno saat detik-detik penutupan calon gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Proses konsolidasi politik yang cukup berliku dan menyita banyak waktu akhirnya menetapkan nama nama calon gubernur dan wakil gubernur yaitu Ahok-Djarot, Anies-Sandiaga, dan Agus-Sylviana.

Euforia pesta politik DKI Jakarta juga dimulai dengan semakin intensnya media nasional maupun media lokal memberitakan perkembangan politik ketiga calon tersebut. Selain itu, makin banyak analisis maupun prediksi terkait peta politik maupun prediksi kemenangan dari 3 calon yang bersaing untuk merebut tampuk kekuasaan wilayah Ibukota.

Sekretaris Jendral Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno terus memperhatikan secara seksama bagaimana pesta demokrasi Ibukota akan berjalan. Eddy melihat bahwa pilgub DKI kali ini akan berjalan menarik apabila setiap calon mampu memberikan gagasan terbaiknya perihal masa depan Jakarta kedepan.

Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam merespon suasana politik pilgub DKI menurut Eddy adalah melaksanakan demokrasi dengan tertib. Tertib dalam arti adalah sikap masyarakat dalam menghindari adanya kegaduhan dan kegaduhan sendiri dapat dihindari apabila tiap elemen masyarakat mampu bersikap dewasa dalam menerima pandangan politik masing-masing calon gubernur yang saling berkompetisi merebut hati rakyat.

Karena menurut Eddy, Jakarta adalah barometer perkembangan demokrasi di tingkat daerah. Proses demokrasi yang terjadi di Ibukota akan menjadi suatu persembahan bagi Indonesia. Pengaruh tersebut akan terbukti seiring dengan intensitas sorotan media terhadap dinamika politik Jakarta yang mendapatkan perhatian juga dari masyarakat daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Masyarakat Jakarta diharapkan mampu secara jeli melihat baik-buruk calon gubernur yang akan dipilihnya nanti untuk menjadi pemimpin Jakarta. Masyarakat harus jeli melihat mana pemimpin yang mampu menjadi suri tauladan bagi warganya. Bagi Eddy, hal terpenting dalam memilih pemimpin Jakarta kelak adalah kemampuan pemimpin tersebut untuk mempunyai dan menjalankan konsep pembangunan kota yang berkelanjutan dan jelas. Eddy juga menambahkan bahwa memilih pemimpin haruslah objektif. Pilih pemimpin dari jejak rekamnya, bukan dari berdasarkan sosok, suku, ras dan agama.