Eddy Soeparno

Pendidikan Berkualitas untuk Seluruh Anak Bangsa

Salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya kualitas pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah.

Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, misalnya pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, penggandaan buku dan alat pelajaran, pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, serta peningkatan manajemen sekolah.

Pendidikan tidak hanya berperan menciptakan generasi muda sebagai agent of change yang membawa perubahan. Namun, generasi muda harus bisa menjadi agent of producer yang mampu menciptakan perubahan yang nyata. Pendidikan harus bisa menjadi patron bukan hanya dalam hal pendidikan formal tapi yang dimaksud adalah pendidikan yang mampu mengubah pola pikir anak bangsa dan pendidikan inovatif yang mendorong kreativitas dan daya inovatif anak bangsa.

Generasi muda sebagai agen inovasi yang dapat memberikan kontribusi penting dan signifikan untuk menerapkan konsep-konsep pembangunan berkelanjutan yang aplikatif.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno berpendapat pemerintah perlu membuka akses dan kemudahan terhadap pendidikan di Indonesia. Selain itu sarana pendidikan bagi seluruh anak bangsa juga harus terjamin ke depannya. Untuk mendapatkan akses pendidikan yang memadai saja, masih banyak anak-anak Indonesia yang belum mampu. Bisa karena alasan jarak tempuh yang jauh dengan lokasi sekolah, atau karena alasan ekonomi yaitu kurangnya biaya untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Atau dengan alasan budaya, masih ada orang tua yang masih menganggap bahwa pendidikan masih dianggap tidak penting untuk masa depan anak-anak mereka.

Menanggapi beberapa masalah tersebut, Eddy sapaan akrab Sekjen PAN menjelaskan beberapa hal. Pertama, jika pemerintah pusat terkendala dengan anggaran untuk melakukan program mengenai pendidikan, maka diharapkan kepala-kepala daerah bisa menginisiasi hal tersebut. Kedua, bahwa pendidikan yang bermutu, tidak hanya bisa diukur atau dinilai dari sekolahnya yang elit dengan menawarkan harga yang mahal, atau dengan begitu banyaknya fasilitas pendidikan yang disediakan. Akan tetapi lebih karena adanya sebuah sistem nilai dan ideologi bangsa yang dijalankan dengan konsisten di lembaga pendidikan tersebut.

Terakhir, pemerintah dinilai belum memberikan porsi yang jelas atas keberpihakannya pada peningkatan kualitas dan memberikan akses yang sama terhadap segenap rakyatnya untuk mendapatkan pendidikan yang memadai. Eddy menuturkan, jika generasi sekarang kurang mendapat proporsi yang lebih besar atas pendidikan bermutu atau berkualitas itu, maka akan semakin memperjelas “kekalahan” dalam persaingan global.

Oleh karena itu Eddy berharap, partisipasi pihak non pemerintah seperti swasta dan BUMN juga turut membantu perkembangan program yang bertujuan untuk memajukan pendidikan anak-anak bangsa. Melalui dana CSR, pihak-pihak tersebut kata dia, bisa membantu untuk memberikan pendidikan vokasional agar lahir tenaga-tenaga terampil yang siap kerja. Mari kita singsingkan lengan baju untuk mewujudkan pendidikan berkualitas untuk seluruh anak bangsa.

[mrh]