Eddy Soeparno

Pemuda dan Pembangunan Bangsa

Berdasarkan data hasil proyeksi penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi penduduk Indonesia saat ini lebih didominasi oleh kelompok umur produktif yakni antara 15-64 tahun. Adapun BPS membedakan penduduk usia produktif menjadi 2 kategoti, yakni penduduk usia sangat produktif di umur 15-49 tahun dan penduduk usia produktif di umur 50-64 tahun.

Kondisi ini tengah menunjukkan Indonesia sedang berada di era bonus demografi, dimana kelebihan penduduk usia produktif dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pembangunan. Diperkirakan, era bonus demografi ini akan mencapai puncaknya pada periode 2025-2030.

Bonus demografi ditandai dengan mulai maraknya generasi milenial, yakni anak muda generasi Y yang kreatif, percaya diri dan terkadang idealis. Bonus demografi sendiri dapat menjadi tantangan sekaligus beban bagi pemerintahan Indonesia. Bonus demografi memang dapat menjadi sebuah peluang besar bagi bangsa Indonesia untuk terus berkembang dan menciptakan karya-karya besar yang dapat mengharumkan nama bangsa.

Namun, satu sisi, bonus demografi juga dapat menjadi beban besar bagi pemerintah Indonesia dalam upaya menata dan mengatur segala aspek terkait. Disinilah tantangan terberat akan bonus demografi.

Beberapa momok bangsa dapat terjadi ketika bonus demografi ini tidak dimanfaatkan dan dikelola secara benar. Misalnya saja, kelebihan usia produktif juga berpotensi untuk meningkatkan pengangguran, yang akan berujung pada kriminalitas, lebih ekstrem lagi ke arah kemiskinan atau kesenjangan sosial. Untuk itu, peran besar negara dalam mengatur rakyatnya sangatlah penting.

Fenomena bonus demografi ini juga mendapat perhatian dari Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno. Sebagai politisi yang fokus pada pembangunan anak muda dan ekonomi kreatif, Eddy menilai ada beberapa langkah konkret untuk menanggulangi sejumlah kecemasan akan bonus demografi.

Pertama, peningkatan sumber daya manusia (SDM), kedua adalah penguatan ekonomi kreatif, dan ketiga adalah memberikan porsi lebih besar untuk pemuda Indonesia untuk berperan serta dalam pembangunan.

Menurutnya, praktek-praktek tersebut menjadi penting, lantaran pemuda menjadi pionir dalam pembangunan berbangsa dan bernegara. Mereka dinilai memiliki peran dan fungsi yang sangat penting. Atas dasar demikian, penguatan dan peningkatan SDM harus dikelola sejak memasuki usia produktif. Bangsa ini harus mencetak generasi-generasi cerdas dan progresif, sehingga tidak termakan ganasnya arus globalisasi.

Selain itu, menurut Eddy, hal penting lainnya adalah perlunya proteksi dan perhatian khusus dalam sektor ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif sedikitnya memiliki 14 sub sektor yang mampu menjadi wadah untuk menampung segala kreasi anak bangsa yang bernilai jual.

Perlu diketahui, potensi besar perkembangan sektor ekonomi kreatif juga ditopang oleh bonus demografi. Bagaimanapun, pemuda ini merupakan tonggak awal untuk menikmati manisnya bonus demografi di masa yang akan datang. Ekonomi kreatif juga akan sangat membantu untuk menopang penciptaan lapangan kerja baru dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Tidak kalah penting lagi adalah keterlibatan pemuda dalam pembangunan. Fakta menyebutkan kenyataannya, pemuda Indonesia mempunyai kemampuan, skill, inovasi dan daya saing yang mumpuni untuk bisa terlibat dalam pembangunan dan ekonomi, baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional.

[sip]