Eddy Soeparno

Pemimpin yang Merakyat

Berbicara tentang pemimpin yang merakyat, leluhur kita telah mengajarkan dan meninggalkan warisan adiluhung. Sebuah falsafah hidup yang yang jika digenggam dengan tekad kuat akan membawa kita pada akhir yang selamat, yaitu ajaran tentang bagaimana seorang pemimpin harus bersikap semata-mata untuk rakyat demi mengharap ridha penguasa alam semesta.

Tentu tidak asing di telinga kita, trilogi kepemimpinan “Ing Ngarsa Sing Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Jika diartikan secara sedeharha ke dalam bahasa keseharian kita bermakna “di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan”. Begitulah sejatinya pemimpin Indonesia.

Pemimpin bertugas untuk mengantarkan rakyat dengan selamat mencapai kesejahteraan. Oleh karena itu, pemimpin bukanlah bagian yang terpisahkan dari rakyatnya. Pemimpin adalah rakyat itu sendiri, bagian yang melekat sebagai kesatuan yang utuh.

Pemimpin yang merakyat haruslah menjadi sebuah keniscayaan. Pemimpin yang berdiri di antara rakyat dapat merasakan suasana kebatinan rakyat sehingga dapat mengetahui apa yang sebenar-benarnya kebutuhan rakyat. Dengan bermodalkan empati kepada rakyat, pemimpin yang telah memahami kebutuhan rakyat dapat dengan sepenuh hati memperjuangkan apa yang menjadi tujuan bersama tersebut.

Saudaraku, untuk menjadi pemimpin yang merakyat tentulah tidak mudah. Dibutuhkan nyali yang besar untuk dapat berdiri di tengah-tengah rakyat. Pemimpin yang harus mampu berpihak pada rakyat. Ini berarti dia akan berhadapan dengan siapapun yang bertentangan dengan kehendak rakyat.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa sekuat apapun suatu rezim menekan rakyat, pada akhirnya akan tumbang oleh kekuatan rakyat itu sendiri. Partai Amanat Nasional menjadi pelaku sejarah betapa berat bangsa dan negara ini melewati fase reformasi. Namun semua itu merupakan harga yang harus dibayar untuk dapat menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hari ini, belasan tahun setelah orde berganti, kita dihadapkan pada suatu sistem pemilihan umum yang lebih terbuka dari sebelumnya. Tujuannya adalah agar rakyat dapat menentukan secara langsung siapa pemimpin yang diharapkannya. Kedaulatan telah kembali ke tangan rakyat, saudaraku.

Namun tidak sedikit para pemimpin yang dikehendaki oleh mayoritas rakyat justru berbalik mengkhianati rakyat. Ada yang menggusur tanpa rasa kemanusiaan bahkan sebelum putusan hukum dikeluarkan. Ada yang tega mencuri uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk membangun fasilitas umum. Ada juga yang ‘kongkalikong’ dengan pemodal, memperkaya diri sendiri dengan menggunakan kewenangan dan jabatannya dengan cara membuat kebijakan yang menguntungkan pemodal namun merugikan rakyat.

Saudaraku, marilah kita kembali ke rahim kita sebagai rakyat. Yaitu berdiri bersama rakyat, merasakan kegalauan dan harapannya, serta berjuang untuk mewujudkannya. Kita harus ada di depan mereka, memberikan teladan secara jelas dan nyata. Sehingga rakyat dapat mengetahui seperti apa sebenarnya yang harus dilakukan sebagai sebuah bangsa. Kita harus ada di tengah-tengah rakyat, tidak berjarak dengan rakyat. Sehingga rakyat tidak melihat pemimpin sebagai “tokoh imajiner” yang serba polesan. Juga kita harus berdiri di belakang rakyat. Mendorong dan memberikan semangat agar rakyat tidak terkekang dan dapat turut serta menentukan masa depan bersama.

Pemimpin yang merakyat juga berarti pemimpin yang hendak dan mampu menciptakan rasa adil bagi rakyatnya. Keadilan yang sebenar-benarnya, yaitu yang tidak membeda-bedakan kepada siapa hukum diterapkan. Semua orang sama di mata hukum. Namun untuk aspek lainnya, pemimpin yang merakyat akan mengetahui siapa di antara semua rakyatnya yang membutuhkan perlakukan khusus. Perlakuan khusus tersebut diberikan kepada kelompok rakyat yang dimarjinalkan sehingga harus dilindungi atau diberikan dorongan lebih.

Saudaraku, tidak ada yang lebih indah dari pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya. Tidak ada pemimpin yang dicintai rakyatnya melainkan dia mampu mencintai rakyatnya. Maka tidak berlebihan jika kami mengajak seluruh elemen bangsa ini untuk saling mencintai dengan cara yang santun dengan mengedepankan empati terhadap rakyat.

 

Eddy Soeparno – Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional