Eddy Soeparno

Partai Harus Dekat Dengan Rakyat!

Turun dari mobil mengenakan pakaian putih dan sepatu casual, Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno disambut beberapa kader yang menyalaminya satu per satu. Senyum ramah, wajah sumringah, dan sikap yang hangat membuat kader PAN merasa akrab dengan seorang Eddy. Didampingi Wakil Ketua Umum PAN yang juga Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, Eddy menyambangi Kampung Ciranjang, Kelurahan Pamayoman, Kecamatan Kota Bogor, untuk melantik kepengurusan DPC PAN se-Kota Bogor. Meski saat itu turun hujan, hal itu tak menyurutkan semangat Eddy dan kader PAN lain untuk mengikuti serangkaian acara pelantikan.

Rangkaian acara dimulai sekitar pukul 14.00 WIB diawali dengan pengecekan fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit UMMI dan penandatangan nota kesepahaman (Mou) antara PAN dengan pihak rumah sakit UMMI. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan dari Sekjen Eddy dan Waketum Bima Arya. Melalui kegiatan ini, PAN ingin menunjukan partai reformasi ini dekat dengan rakyat dan berjuang bersama rakyat. Di masyarakat sekitar, khususnya masyarakat Kampung Ciranjang, yang menjadi fokus utama adalah isu lingkungan. Tak lupa dalam kegiatan tersebut para kader PAN menanam puluhan pohon di kampung tersebut. Setelah itu, Eddy juga secara simbolik melepas bibit ikan di kolam pemancingan ikan di kampung tersebut.

Acara pelantikan tidak dilakukan di gedung mewah, sebaliknya dilakukan di kampung kecil yang padat warga. Justru karena itu Sekjen Eddy merasakan aura solidaritas, ketulusan dan loyalitas yang sangat erat antar kader. Menurut Eddy, pelantikan ini sangat sesuai dengan garis perjuangan PAN yang sudah seharusnya selalu dekat dan mengutamakan rakyat.

Eddy mengharapkan pelantikan yang dekat dengan rakyat ini jangan sekedar pencitraan atau simbolik semata. Namun harus riil dan menjadi pedoman yang sejati dari perjuangan seluruh kader PAN.
Pelantikan sesederhana ini mengingatkan kita sosok Presiden pertama Republik Indonesia, yaitu Soekarno. Sesaat usai dilantik menjadi presiden, Soekarno pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Di tengah jalan, pria yang kerap dipanggil Bung karno ini melihat tukang sate di pinggir jalan. “Di jalanan aku bertemu dengan tukang sate yang berdagang di kaki lima. Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia memanggil pedagang yang bertelanjang kaki itu dan mengeluarkan perintah pelaksanaannya yang pertama. Sate ayam 50 tusuk!” ujar Soekarno.

Setelah pesanan selesai dibuat, Soekarno jongkok dipinggiran jalan dekat tong sampah dan memakan 50 tusuk sate dengan lahap. Kisah ini menjadi perayaan pertama Presiden Soekarno menjadi seorang pemimpin negara. Kisah pelantikan DPC PAN se- Kota Bogor dan Soekarno mengajarkan kita bagaimana awal sebuah perjuangan tidak perlu dirayakan berlebihan. Presiden Soekarno pasti menyadari bahwa perjuangan Indonesia setelah memerdekakan diri akan semakin berat.

Begitu juga dengan para kader PAN yang menyadari bahwa masih banyak rakyat miskin yang harus diperjuangkan kemerdekaannya dan kesejahteraannya. Oleh karena itu, pelantikan DPC PAN se-Kota Bogor dilantik di tengah-tengah rakyat agar mereka selalu mengingat dan memperjuangkan rakyat.