Eddy Soeparno

PAN Tidak Membiarkan Kader Tanpa Arah

Pasca kekalahan pasangan calon (paslon) gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno mengatakan hingga saat ini PAN belum menentukan kemana langkah dukungannya akan berpihak pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.

Eddy menegaskan, jika ada sejumlah kader yang memilih untuk mendukung paslon Anies Baswedan-Sandiaga Uno di putaran kedua nanti, hal itu masih bersifat personal dan tidak secara kelembagaan. Soal sikap resmi PAN akan kemana nanti, Eddy menambahkan hal itu bisa diputuskan setelah adanya musyawarah internal yang sudah dijadwalkan dalam waktu dekat ini.

Akan tetapi, sebelum musyawarah internal tersebut dilaksanakan, Eddy juga mengaku PAN akan berkomunikasi terlebih dahulu dengan partai politik yang tergabung dalam barisan pendukung AHY-Sylvi. Eddy juga menuturkan, etika politik yang santun tetap harus dikedepankan, sehingga ibarat peribahasa, “datang tampak muka pulang tampak punggung”, ketika PAN memilih bergabung untuk mendukung AHY-Sylvi, ketika hendak pergi maka juga harus pamit secara baik-baik.

Kendati belum menentukan sikap, namun Eddy memastikan PAN tidak akan berada dalam posisi netral pada putaran kedua Pilkada Ibukota. Eddy menegaskan, PAN tidak akan membiarkan pendukung dan kadernya melangkah tanpa arah di putaran kedua.

Hal ini berarti, partai berlambang matahari putih itu akan tetap menentukan pilihannya untuk berkoalisi dengan pasangan calon Anies-Sandi ataupun Ahok-Djarot. Saat ini, kemana PAN akan berkoalisasi masih menjadi diskusi para elit PAN. Oleh sebab itu, kader PAN sekiranya tidak perlu khawatir tidak diberikan kepastian oleh partai besutan Zulkifli Hasan tersebut.

Pada putaran kedua pilgub DKI Jakarta 2017, Eddy berharap masyarakat DKI Jakarta tetap mengedepankan sportifitas dan politik yang demokratis. Jika pada putaran pertama ada yang belum menggunakan hak pilihnya, maka pada putaran kedua nanti merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan untuk menentukan siapa pemimpin Jakarta hingga lima tahun yang akan datang.

[fit]