Eddy Soeparno

PAN Pantau Elektabilitas Kader dan Tokoh Jelang Pilwalkot 2018

Fajarnews.com, CIREBON- Partai Amanat Nasional (PAN) sudah menyiapkan kader-kadernya serta tokoh-tokoh yang berpeluang untuk maju ke Pilwalkot Cirebon tahun 2018 nanti.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Jenderal DPP PAN, Eddy Soeparno saat ditemui usai acara pengajian Isra Miraj di Alun-alun Kesepuhan Kota Cirebon, Minggu (23/4).

Dikatakan Eddy, kader dan tokoh yang sudah dipersiapkan tersebut, diharapkan untuk terus melakukan sosialisasi di lapangan, agar pihaknya dapat mengukur elektabilitas dan popularitas kader dan tokoh tersebut di masyarakat.

Lanjutnya, apabila sudah terdata elektabilitas dan popularitasnya, maka akan memudahkan pihaknya untuk melaksanakan evaluasi yang berujung penunjukan siapa yang akan diusung PAN dalam Pilwalkot 2018 nanti.

“Kita menghendaki, kalau bisa, kita mendorong kader karena PAN itu partai kader,” ungkapnya.

Karena PAN partai kader, lanjut Eddy, tentu akan mengutamakan kader, tetapi, ia terus mendorong kadernya terus bergerak untuk sosialisasi. Ia mengaku, sudah melihat dan memantau tokoh-tokoh masyarakat yang ada di kota Cirebon.

Eddy mengungkapkan, kepemimpinan Wali Kota Cirebon saat ini, menurutnya, sudah melakukan banyak hal terbaiknya untuk membangun Kota Cirebon. Tetapi, lanjutnya, sebagaimana masyakarat lihat, masih ada beberapa hal yang masih dapat dioptimalisikan.

Dirinya berharap, siapapun yang akan menjadi walikota di Cirebon yang akan datang dapat bekerja jauh lebih keras, jauh lebih cepat yang menghasilkan pekerjaan yang lebih maksimal.

“Belum ada nama, kita masih melakukan pencatatan siapa tokoh-tokoh berpeluang ini, termasuk ketua DPC. Diantara tokoh-tokoh yang ada, baik dari jalur politik, jalur parpol maupun dari jalur yang lain,” ungkapnya.

Terkait koalisi, melihat kursi di DPRD Kota Cirebon, PAN yang belum dapat mengusung calon sendiri, Eddy mengungkapkan, akan berkoalisi dengan berbagai model. Dikatakan, bisa saja mengadopsi koalisi seperti di Pilgub DKI Jakarta ataupun berbeda. Menurutnya, semua dilihat dari kondisi yang ada di daerah.

“Kalau kita melihat tahun 2015 dan 2017 pada pilkada serentak, justru kemenangan PAN itu bersama-sama dengan PDIP, memang pengecualian di DKI Jakarta, tetapi, kita lihat nanti 2018 bagaimana kita bertarung di daerah, siapa yang didorong dan koalisi mana yang paling cocok dengan kita,” pungkasnya.