Eddy Soeparno

PAN di Tengah Dunia Kaum Muda Urban

Usia Sekjen Eddy Soeparno sudah 50. Itu muda atau tua? Bergantung dari mana melihatnya.

Dari sisi wajah, perawakan, dan gaya, kesannya belum setengah abad. Dari sisi pengalaman, dia baru resmi menjadi kader pada 2002. Lalu 13 tahun kemudian menjadi sekjen.

Jika kemudaan ditilik dari spirit, bukan sekadar “pokoknya belum manula”, ada sejumlah faktor yang dapat diterapan pada Eddy sebagai bagian dari kemudaan yang harus direngkuh oleh partai.

• Konstituen

Dia sadar bahwa pada pada Pemilu 2019 nanti pemilih muda sangat dominan.

Bicara kaum muda berarti bicara literasi internet. Pada Pileg dan Pilpres 2014 saja ada 90 jutaan pengguna internet yang didominasi kelompok usia 18-35 tahun.

Artinya empat tahun lagi (2019) ada barisan baru lagi, usia 17 ke atas, sehingga menggembungkan kaum muda. Partai harus tanggap. Eddy juga harus tanggap, tapi mustahil bergerak jika tak didukung mesin organisasi yang segendang sepenarian.

• Wawasan Global

Eddy tumbuh di Jerman. Sembilan tahun dia di sana, mengikuti penempatan ayahnya, M. Soeparno (yang kemudian menjadi Dirut Garuda Indonesia, 1988-1992).

“Karakter dan kepribadian saya secara otomatis terbentuk mengikuti sejumlah nilai dan kebiasaan warga Jerman,” katanya, Mei 2015.

Misalnya? “Tepat waktu, bekerja secara sistematis, taat peraturan lalu lintas.”

Pengalaman kerja Eddy juga mencakup luar negeri. Misalnya di Singapura dan Hongkong, yang menjadi denyut bisnis keuangan Asia. Ditambah pelatihan di sejumlah kota — sejak Sydney (Australia), New York (AS), hingga Amsterdam (Belanda) — lengkaplah jelajah globalnya.

Belum terbukti apakah dengan latar itu dia bisa berkomunikasi dengan kaum profesional hasil didikan luar negeri yang juga mencicipi pengalaman kerja internasional. Mereka itulah kaum yang diincar oleh PAN. Waktulah yang akan membuktikan.

• Urban-kosmopolitan

Di manakah mayoritas pendukung PAN kini dan nanti: kota kecil (dan pedesaan) atau kota besar? Data demografis pemilu dapat diintip kalau telaten.

Namun sebenarnya ada yang menarik. Internet telah mengikis kesenjangan informasi dan preferensi “orang kota besar” dan “orang kota kecil”.

Bandingkan dengan zaman media cetak. Saat itu eksposur media informasi terhadap orang kota besar lebih kencang ketimbang terhadap  orang kota kecil. Kalau diekstremkan, terpaan media kelas menengah Jakarta saat itu jauh lebih pesat daripada kelas menengah di “daerah”.

Kini internet, dengan media sosial di dalamnya, yang didukung oleh keterjangkauan jaringan (infrakstruktur) dan peranti, menjadikan akses informasi lebih merata.

Persoalannya tinggal bagaimana pengurus PAN menjangkau mereka. Bukan sebaliknya, menunggu mereka menggapai PAN.

Sosok Eddy sebagai pengguna media sosial yang suka fotografi, dan menjadikan foodism sebagai klangenan yang memperkaya kehidupan maupun jejaring pertemanan, semoga lebih akseptibel bagi pemilih — ada efek semacam “Dia temen gue.” Lihat saja bio-nya di Instagram: “Eddy Soeparno Global citizen, foodie… and once in a while, CFO in the company I work for…”

Jika kemampuan manajerial adalah kompetensi utama, maka ketiga hal tadi adalah kompetensi pendukung yang masih dapat dioptimalkan.

Ditulis oleh Tanda Baca untuk EddySoeparno.com