Eddy Soeparno

PAN Bertransformasi jadi Partai Besar

PAN hari ini kerap mewarnai pemberitaan. Rumah PAN, markas besar DPP partai berlambang Matahari itu tak pernah sepi setiap harinya dari kegiatan Kepartaian.

Sebut saja beberapa kegiatan internal maupun eksternal selama 1 tahun Kepengurusan DPP PAN 2015-2020: “Sabang Merauke” alias Safari Kebangsaan Merajut Kebhinekaan. #KaderBackpacker. Sekolah Politik Kerakyatan. Temu Instruktur Perkaderan Nasional. Latihan Kader Amanat Utama. Rapat Kerja Nasional. Dan masih banyak lagi kegiatan konsolidasi internal partai, serta kegiatan non formal yang dilakukan setiap pengurus maupun Politisi PAN seperti menyerap Aspirasi, dan Pendidikan Politik.

Belum lagi sosok Ketua Umum dan Sekjen serta beberapa Pimpinan Teras DPP PAN yang selalu merespon isu publik yang sedang menjadi sorotan. Bahkan dalam Rakernas akhir Mei 2016 yang lalu, isu Kejahatan Seksual terhadap Anak menjadi salah satu sorotan utama pembahasan.

Ketum Zulkifli Hasan, Waketum Hanafi Rais, Sekjen Eddy Soeparno, Ketua Bappilu Viva Yoga Mauladi, Ketua DPP Yandri Susanto, Ketua Fraksi PAN DPR RI Mulfachri Harahap misalnya, mereka menjadi langganan para pewarta untuk ditanyai tanggapannya. Belum lagi kisah sukses beberapa Kepala Daerah yang merupakan kader PAN seperti Kang Yoto, Bupati Bojonegoro, atau Bima Arya, Walikota Bogor yang membanggakan.

Sekjen Eddy Soeparno misalnya, kita sering membaca pernyataannya di pemberitaan terkait harga sembako, Tax Amnesty, Pilkada DKI, atau isu politik kekinian. Mungkin karena PAN sering menggelar Konferensi Pers dan sosok Sekjen yang bersahaja serta mudah dihubungi wartawan, maka tidak heran jika ia bersama Ketum PAN sering menjadi newsmaker.

PAN memang partai menengah. Namun harapan untuk naik kelas menjadi partai besar di Indonesia sangat terbuka, melihat komposisi Pengurus DPP PAN yang didominasi kaum muda. Dengan gagasan anak muda dan tak lupa petuah para senior, PAN bergerak dinamis, memposisikan diri di pentas politik nasional.

Perkaderan jalan. Kebijakan pemilihan calon kepala daerah dan ikhtiar untuk memperjuangkan pemenangan sudah teruji di Pilkada serentak tahap pertama tahun 2015 yang lalu. PAN terbukti berhasil memenangkan sekira 55% calonnya atau sekitar 140 Pasangan dari 254 pasangan calon yang diusung.

Itu semua tak lepas dari manajemen partai yang terkonsolidasi dengan rapi. Sistem sudah berjalan, dan potensi konflik internal partai masih bisa diatasi. Selain itu, sosok Ketum yang bisa diterima banyak kalangan. Terbukti dengan Pengabdiannya sebagai Ketua MPR RI yang ‘menyejukkan’ suhu politik Nasional. Jika PAN istiqomah, maka bersiap-siap untuk menjadi penghuni baru deretan parpol besar bersaing ketat dengan PDI Perjuangan dan Golkar.

Oleh Haidar Fahda