Eddy Soeparno

PAN: Berikan Pembelajaran Politik yang Baik kepada Masyarakat

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta memang masih bulan Februari 2017 mendatang. Namun, tensi kompetisi dalam memperebutkan kursi DKI 1 sudah memanas. Calon incumbent Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok beberapa kali ‘perang mulut’ dengan calon lainnya yaitu Anies Baswedan yang berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Ditambah lagi, kontroversi Ahok yang mengajak masyarakat Kepulauan Seribu untuk kembali memilihnya dengan menyinggung salah satu ayat di Al Quran, yaitu surah Al Maeda ayat (51), yang membuat masyarakat seantero Indonesia menghujat mantan Bupati Belitong Timur tersebut. Ahok yang sering mengeluh karena kerap mendapat serangan bernada SARA sampai diprotes Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena dinilai menghina Agama Islam.

Hanya satu pasangan calon, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, yang tidak menuai kontroversi. Pasangan ini lebih memilih untuk turun ke kampung-kampung untuk menyapa masyarakat dari pada saling serang di media.

Menurut Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno, sikap pasangan Agus-Sylvi sudah tepat. PAN yang termasuk mengusung pasangan tersebut dalam ‘Koalisi Cikeas’ bersama Partai Demokrat, PKB, dan PPP, memang mengusung slogan ‘politik tidak gaduh’ yang sesuai dengan karakter Agus-Sylvi yang santun, memasyarakat, dan tegas.

Mungkin Eddy bermaksud ingin memberikan pesan kepada partai dan calon lain untuk mempertontonkan demokrasi yang sehat kepada masyarakat serta memberikan pembelajaran politik yang baik kepada seluruh rakyat Indonesia. Sebab, euforia Pilkada DKI Jakarta ini tidak hanya dirasakan di ibukota saja, tapi seluruh Indonesia juga merasakan auranya. Oleh karena itu, Eddy mengimbau kepada semua calon gubernur dan tim sukses agar tidak memperlihatkan cara-cara tidak baik dalam bersosialisasi, seperti kampanye hitam dan SARA.

Menurutnya, warga DKI sudah cukup lama disajikan tontonan bersifat SARA sejak Ahok menjadi gubernur DKI. Namun saat ini, warga DKI Jakarta cukup terdidik dan memiliki akses informasi setiap saat, jadi isu SARA tidak akan lagi berguna. Sekarang, masyarakat akan mencari calon pemimpin yang mampu menunjukkan kesantunan dan keteladanan. Justru, lanjutnya, permainan isu SARA akan mempengaruhi apatisme pemilih. Semakin isu SARA diperbesar dan tidak memikirkan solusinya masyarakat Jakarta semakin apatis. Sehingga, para pemilih tidak akan datang ke TPS untuk memilih.

“Sebagai parpol, kita memiliki kewajiban memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Sara tidak menguntungkan. Bagaimana memikirkan rakyat kalau energi cuma buat gaduh? Masalah SARA menguras energi dan negatif, tidak perlu dikedepankan,” kata Eddy.

“Oleh karena itu, kami mengimbau agar seluruh pasangan calon (paslon) dan seluruh tim yang mendukung paslon itu marilah kita mengkritik secara baik dan beretika,” tegasnya.

Oleh Fadly Rizkiansyah