Eddy Soeparno

Merawat Persatuan dalam Kebhinekaan

Eskalasi yang kian memanas, membuat seseorang bisa berubah dalam waktu seketika. Jika kita tidak membekali diri dengan informasi yang utuh, kita akan mudah terpengaruh dalam menyikapi isu pilkada ini. Kita juga perlu mengendalikan diri, untuk tidak saling melakukan provokasi yang bisa memperkeruh suasana. Persatuan dalam kebhinekaan di Jakarta harus kita rawat bersama.

Kebhinekaan harus diterima sebagai fakta kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Ia menjadi fakta, karena kebhinekaan di Indonesia lahir sebagai hasil kesadaran konstruksi filosofi masyarakat terhadap kenyataan-kenyataan yang ada di konteks sosialnya, baik itu melalui gejala alam maupun melalui daya pikir. Karena ia lahir dari sebuah kekayaan filosofi masyarakat, maka sesungguhnya tidak ada seorangpun atau komunitas apapun yang berhak melakukan intervensi, intimidasi, atau menghancurkannya.

Senada untuk merawat persatuan kebhinekaan dalam pilkada, Sekertaris Jenderal DPP PAN Eddy Soeparno mengajak “Mari bersama-sama kita teguhkan hati untuk ciptakan kondisi yang teduh dan kondusif di masyarakat Jakarta,” ungkap Eddy. Kondisi Ibukota harus kondusif sebagai modal untuk memajukan Indonesia maka kebhinekaan harus kita jaga bersama.

Hidup dalam kebhinekaan bukan berarti kita harus membeda-bedakan atau dibeda-bedakan karena suku, agama, ras, atau golongan. Kebhinekaan justru dapat membawa dampak positif dan secara signifikan mengawal perjalanan kita sebagai bangsa yang besar. Keberhasilan menunjukkan persatuan dalam keberagaman, menjadi sebuah keunggulan di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

Jelang hari pemilihan putaran kedua Pilkada DKI, suasana ibu kota kian memanas. Pesta demokrasi lima tahunan ini banyak dimanfaatkan oleh semua pihak, untuk memenangkan pasangan calon pilihannya. Hal itu sebenarnya lumrah sebagai bentuk dari demokrasi. Namun jika upaya pemenangan itu dilakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kultur negeri ini, tentu menjadi tidak relevan.

Dalam hal ini Eddy mengatakan untuk memperoleh simpati, mereka mengusung politik kondusif dan tanpa gaduh. Karena menurutnya politik yang gaduh akan menghambat pembangunan dan pengentasan kemiskinan yang menjadi fokus kita semua.

Atas nama demokrasi, segala sesuatu menjadi layak untuk di debat. Menggunakan demokrasi untuk menjegal demokrasi itu sendiri. Atas nama demokasi pula, keberagaman diberangus. Saat ini, keberagaman di Indonesia menjumpai ujian berat. Terlebih ketika musim pilkada. Ketika semua kepentingan berbaur menjadi satu lalu mengaburkan semuanya. Hal yang semestinya diterima sebagai keniscayaan menjadi sesuatu yang layak bahkan wajib digugat. Sangat disayangkan kebhinekaan yang telah ada selama ini di Jakarta terkoyak karena pilkada.

Dengan kesadaran berdemokrasi yang berlandasakan etika moral agama yang lebih terbuka diharapkan dapat mendorong perubahan di masyarakat. Bukan berdasarkan subjektivitas ideologi, melainkan berorientasi jauh ke depan, demi kepentingan bangsa dan negara. Karena hal inilah yang akan menentukan keberlanjutan demokrasi guna merawat kebhinekaan di Indonesia.

Eddy juga berpesan jangan sampai Pilkada DKI mengorbankan tali silaturahim dan persahabatan, karena bagaimanapun juga, persatuan, toleransi dan kebhinekaan itulah yang harus dijaga dan dirawat bersama-sama. Setelah pilkada usai, sangat diharapkan kebhinekaan terawat seperti sekarang ini. Semoga pilkada ini berjalan dengan damai dan aman. Salam.

[mrh]