Eddy Soeparno

Merawat Budaya Literasi

Budaya literasi seharusnya melekat erat pada setiap generasi. Namun, sepertinya hal tersebut tidaklah terjadi di Indonesia. Faktanya, tak bisa dipungkiri sudah sejak lama budaya literasi anak bangsa mulai luntur. Terdapat sejumlah bukti penelitian yang menyebutkan minat baca tulis masyarakat Indonesia sangat rendah. Mari kita jabarkan satu per satu.

Data Badan Pusat Statistik tahun 2006 menyebutkan 85,9 persen masyarakat lebih memilih menonton televisi, 40,3 persen mendengarkan radio dan hanya 23,5 persen yang memilih membaca koran. Hal tersebut menunjukkan sejak 10 tahun yang lalu, minat membaca masyarakat Indonesia telah memudar.

Data selanjutnya merujuk pada penjualan jumlah buku di Indonesia. Rata-rata hanya 18 ribu judul buku yang dicetak setiap tahunnya. Jumlah tersebut sangat jauh berbeda jika kita bandingkan dengan negara lainnya. Misalnya Jepang dengan 40 ribu judul buku pertahun, dan China dengan 140 ribu judul buku pertahun.

Tahun 2012, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) melansir indeks tingkat membaca orang Indonesia. Hasilnya sangat mengenaskan, yakni minat membaca masyarakat Indonesia hanya ada 0,001. Artinya, jika diasumsikan ada 1.000 penduduk, maka hanya ada 1 orang yang memiliki minat membaca.

Data tersebut juga didukung dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh John W. Miller, Presiden Central Connecticut State University di New Britain, CT, Amerika Serikat. Dalam studi ‘Most Littered Nation In the World’ yang dilakukan pada Maret 2016 lalu, Indonesia dilansir menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand pada peringkat 59 dan berada di atas Bostwana pada peringkat 61.

Kondisi ini terlihat jauh lebih mengenaskan jika kita kembali ke masa-masa kemerdekaan Indonesia. Sebuah penelitian Dr. Fasil Jalal dan Nina Sardjunani yang dipublikasikan di Journal AED-DVV International menyebutkan tingkat literasi Indonesia meningkat signifikan pada masa pembangunan pasca kemerdekaan, yakni kisaran tahun 1971 hingga 1990. Namun sayangnya, tingkat literasi tersebut kian luntur pada era 2000.

Budaya literasi memiliki peranan penting dalam upaya pembangunan suatu bangsa dan negara, khususnya pada pola pikir generasinya. Menanggapi hal tersebut, Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno mengajak para generasi muda untuk turut membangkitkan semangat gemar membaca. Menurutnya kegemaran membaca buku harus ditanamkan sejak dini agar menjadi suatu pola hidup atau kebiasaan yang baik.

Tak hanya itu, budaya literasi khususnya habit membaca merupakan sebuah jalan dalam upaya memperbaiki nasib bangsa dan negaranya. Dengan kebiasaan gemar membaca, maka niscaya akan terciptanya generasi muda Indonesia yang berwawasan, kritis dan berkualitas. Karena pada dasarnya, dengan membaca dinilai mampu untuk membangun dan meningkatkan keilmuan, sehingga hal tersebut patut dibudayakan. Kalau membaca saja sudah susah, apalagi mau menulis?

Mirisnya budaya literasi dalam negeri harus segera diperbaiki. Literasi merupakan jantung kemampuan dalam menghadapi berbagai tantangan pada abad ini. Untuk itu, mari tingkatkan dan tularkan gemar baca tulis. Luangkan waktu untuk membaca buku, dan perbaiki kualitas diri, untuk persiapan menghadapi tantangan masa depan.