Eddy Soeparno

Menggunakan Kekuasaan Untuk Kepentingan Bersama

Tidak lama lagi, tepatnya 19 April 2017, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta Putaran kedua akan diselenggarakan. Warga Ibu kota akan melakukan pencoblosan untuk memilih satu di antara kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama-Djarot Syaiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Pilkada DKI Jakarta 2017 bukan hanya persoalan bagaimana cara merebut kekuasaan semata, meski banyak masyarakat yang percaya bahwa bagaimanapun Pilkada merupakan kendaraan seseorang untuk memperoleh jabatan dan berkuasa atas jabatannya.

Sejatinya, dalam konteks pilkada DKI Jakarta, hal terpenting dari penyelenggaraan memilih pemimpin Jakarta untuk 5 tahun ke depan ini adalah persoalan apakah calon yang terpilih tersebut mampu unggul dalam bersaing dan bisa membuat warga Jakarta lebih sejahtera atau tidak. Selain itu, pemimpin DKI Jakarta ke depan juga diharapkan mampu berbuat adil dalam mengatur masyarakat Jakarta.

Memang benar, dengan kekuasaan kita mampu melakukan apa saja sesuai dengan apa yang kita inginkan. Namun alangkah bijaknya jika pun kita memiliki kekuasaan, kita gunakan kekuasaan tersebut untuk kepentingan masyarakat secara luas.

Hal ini juga disampaikan oleh Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno. Menurut Eddy, kekuasaan hanyalah alat untuk mencapai kesejahteraan rakyatnya, hanyalah kesempatan untuk menuangkan ide-ide, gagasan-gagasan dan membuat program untuk kemajuan bangsa. Jika kekuasaan yang sudah dimiliki menjadi hal yang disalahgunakan oleh pemiliknya, maka habis sudah kejayaan bangsa ini.

Eddy juga mengungkapkan, kekuasaan yang tidak disalahgunakan juga menjadi kunci masa depan kota Jakarta agar lebih baik, aman, nyaman, tertib dan demokratis. Oleh sebab itu, siapapun nantinya yang akan memimpin Jakarta, Eddy berharap agar mampu menggunakan kekuasaannya dengan baik dan bijak. Kekuasaan yang ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat Jakarta.

Menjadi seorang pemimpin tentu tidak hanya bicara soal bagaimana menguasai daerah atau menguasai rakyat yang dipimpinnya. Justru, menjadi pemimpin berarti menjadi figur yang banyak memiliki PR untuk memajukan rakyatnya. Menjadi pemimpin juga berarti menjadi pemberi contoh yang baik, agar ke depan tidak ada lagi masyarakat yang merasa tidak dicintai secara adil, atau bahkan merasa ditindas oleh pemimpinnya sendiri karena kekuasaan pemimpin yang disalahgunakan.

[fit]