Eddy Soeparno

Menggerakkan Organisasi dengan Luwes

Sekjen PAN Eddy Soeparno | Foto: CNN Indonesia

Sekjen PAN Eddy Soeparno (ES) mengakui, bahwa partai sebagai organisasi berbasis sosial itu punya dinamika yang berbeda dari korporasi. Pernah dia katakan, “Kalau partai, dinamikanya lebih tinggi, seolah tak baku-kaku.”

Korporasi, rumah lama ES dalam berkarier, “Umumnya korporasi memiliki ‘rules & regulation’ dan ‘business process’ yang jelas, rinci dan baku, sehingga pengelolaan korporasi dilakukan secara efisien, terencana dan terukur, sejalan dengan sektor usaha yang digelutinya.”

Bagaimana dengan kehidupan kepartaian?

Berikut ini pokok pemikiran ES terhadap dua isu. Salah satunya adalah persoalan keuangan: kader tiba-tiba minta ongkos jalan kepada pengurus.

Perencanaan dan kotrol

Perubahan yang sejatinya akan saya lakukan di PAN diawali dari penerapan sistem dan prosedur untuk sejumlah hal yang relatif kecil, namun berdampak signifikan.

Misalnya manajemen kantor dengan adminsitrasi yang rapi dan tertata, lingkungan kantor yang bersih dan tertib, serta disiplin terhadap waktu.

Selain itu juga berfungsinya seluruh organ partai, dimulai dari badan-badan di DPP, Mahkamah Partai, Dewan Kehormatan dan Penasehat, dan lainnya.

“Intinya sederhana: seluruh elemen partai harus mampu bergerak secara proaktif dan cepat.”

Saya selaku Sekjen menyediakan “manualnya” agar seluruhnya bergerak secara tepat sasaran dan tidak melanggar ketentuan organisasi.

Pernak-pernik keuangan

Khusus permintaan kader untuk “ongkos pulang atau ongkos jalan”, hal itu merupakan tradisi yang berlaku di seluruh organisasi partai politik maupun organisasi kemasyarakatan lainnya.

Sepanjang hal tersebut tidak mengganggu, dan sifatnya personal (dari individu satu kepada individu lainnya, atau dengan kelompok kecil lainnya), saya anggap hal tersebut masih dalam konteks “saling membantu” di antara para kader.