Eddy Soeparno

Mengenal KYC, Perangkat Bank Cegah Tindak Pidana Pencucian Uang

Guna memaksimalkan penerimaan negara di sektor pajak, pemerintah memberlakukan tax amnesty atau pengampunan pajak kepada wajib pajak, baik di dalam maupun luar negeri. Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap akan banyak dana yang masuk ke Indonesia melalui dana repatriasi.

Namun, usaha pemerintah untuk menarik uang masyarakat yang ada di luar negeri sepertinya menemui hambatan kecil, salah satunya seperti yang dilakukan bank di Singapura. Mereka membuat aporan transaksi mencurigakan atau suspicious transaction report (STR) ke Commercial Affairs Department (CAD) atau unit kepolisian yang menangani kasus kejahatan finansial di Singapura jika ada nasabah dari Indonesia yang akan mengikuti tax amnesty.

Langkah bank di Singapura mengundang banyak reaksi, salah satunya Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno. Menurutnya hal itu adalah salah satu bentuk kepanikan karena bank di Singapura akan kehilangan banyak uang dari nasabah Indonesia. Selain itu, Eddy menilai alasan bank tersebut sangat mengada-ngada karena jika memang ada transaksi mencurigakan, mengapa baru sekarang dipermasalahkan.

“Pertanyaannya sekarang, mengapa dana yang sudah mengendap di berbagai bank di singapura, bahkan ada yang sudah belasan dan puluhan tahun, sekarang ini masuk kategori transaksi ‘mencurigakan’, ketika nasabahnya melaporkan harta sebagai bagian dari program amnesti pajak? Alasan beberapa bank di Singapura melakukan STR cenderung over reacting dan tidak relevan,” kata Eddy seperti dikutip Republika.co.id.

Pernyataan putra daerah Cirebon, Jawa Barat, ini sepertinya masuk akal. Dalam dunia perbankan, ada standard operating procedure (SOP) yang harus ditaati ketika ada nasabah datang ‘membawa’ uangnya ke suatu bank, yaitu Know Your Customer (KYC). KYC adalah Pengenalan Pelanggan, dimana Perusahaan Asuransi harus mengenal pelanggan dan intermediarinya, seperti identitas, sumber penghasilan, alamat tempat tinggal, tempat usaha maupun kantor pelanggan. Hal ini untuk menghindari adanya transaksi pencucian uang.

KYC bertujuan mencegah terjadinya tindak pidana pencucian uang di setiap negara. Hal ini dimaksudkan agar bank tetap termasuk kategori cooperative country, sehingga dapat terus melakukan transaksi keuangan dengan dunia internasional. Program ini bersifat Teknik Anti Money Laundering (AML) operasional, sistematis, integratif, dan fokus pada hal-hal sensitif nasabah.

Jika bank di Singapura lalai dengan tidak melakukan KYC atau dengan sengaja tidak melakukan KYC maka seharusnya yang perlu diperiksa adalah pejabat bank tersebut, bukan nasabah yang Indonesia yang ingin mengikuti kebijakan tax amnesty.