Eddy Soeparno

Memimpin dengan Cinta untuk Jakarta

Awal tahun 2017 nanti, warga Jakarta akan melaksanakan pesta demokrasi untuk memilih gubernurnya, pemimpin rakyat Jakarta. Sejumlah nama bermunculan hendak menantang calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang saat ini menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Ada nama seperti Wali Kota berprestasi dari Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma; pengusaha nasional, Sandiaga Uno; atau mantan Menko Maritim dan Sumber Daya, Dr Rizal Ramli; Kepala BNN Komjen Budi Waseso.

Sebagai ibukota politik maupun bisnis di republik ini, Jakarta adalah sentra bagi segala urusan negara. Baik itu politik, ekonomi, sosial dan budaya. Oleh karena itu Jakarta harus menjadi parameter yang baik dan teladan bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah, terkhusus dalam hal kepemimpinan dan pelayanan publik.

Seorang penulis kenamaan menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi orang lain untuk bersedia berusaha mencapai tujuan bersama. Sang pemimpin Jakarta, oleh karena itu, harus mampu merangkul seluruh rakyat untuk dapat berjuang bersama mencapai tujuan bersama.

Ibu Kota negara, Jakarta, dengan segala dinamikanya yang keras dan intens sesungguhnya membutuhkan sosok pemimpin yang tegas namun bijaksana. Dengan potensi ekonomi yang begitu besar, sang pemimpin tersebut harus tulus, jujur dan bersungguh-sungguh mementingkan dan memenangkan kepentingan serta kesejahteraan rakyat Jakarta.
Jika kita melihat sejumlah hasil riset lembaga survei, kita memperoleh data bahwa pemimpin Jakarta harus memiliki karakter yang bersih alias tidak korupsi, merakyat, berpengalaman sebagai pejabat publik, tegas namun tetap santun.

Kepemimpinan yang tegas dan teduh ini harus mampu memberi solusi, bervisi sekaligus mampu mengayomi seluruh rakyat Jakarta secara baik. Bukan dengan pendekatan gaduh dan konflik, namun dengan pendekatan yang lebih bijak, guyub dan hangat khas kultur ibu kota.

Indonesia adalah bangsa yang plural. Kemajemukan kita dijamin oleh konstitusi keberadaan dan keberlangsungannya. Dalam berdemokrasi dan berkebangsaan, maka sebuah kepemimpinan harus mampu menunjukkan komitmennya terhadap prinsip-prinsip penghormatan hak-hak sipil, partisipasi, solidaritas, kesejahteraan rakyat dan komitmen terhadap pemerintahan bersih serta berpihak kepada rakyat.

Kami mengkritik dan menolak pola-pola kepemimpinan yang cenderung memandang rakyat seolah-olah penghalang proses pembangunan. Penggunaan alat-alat kekuasaan seperti TNI dan POLRI dalam kasus-kasus penggusuran merupakan langkah yang tidak tepat ketika jalan dialog yang inklusif selalu terbuka dan secara rasional dapat dijalankan oleh seorang pemimpin. Bukankah presiden kita, Joko Widodo, saat memimpin Solo dan Jakarta, selalu mengedepankan dialog dengan rakyat.

Pemimpin harus dapat membawa harapan, ayoman, semangat dan solusi bagi rakyat. Rakyat Jakarta sangat bervariasi, mulai dari kalangan yang paling mampu, paling elite di negeri ini, sampai kalangan menengah, dan kalangan miskin serta sangat miskin. Mayoritas adalah kalangan bawah dan marjinal. Pendekatan ‘pembangunanisme’ semata tidak dapat dan tidak akan mungkin dapat menyelesaikan persoalan Jakarta saat ini.

Dibutuhkan pendekatan multi-cinta dalam menata Jakarta. Politik dan kekuasaan harus digunakan untuk menghibur dan menyenangkan rakyat. Tegas adalah suatu keharusan, berlandaskan hukum tapi jangan tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Seorang ahli psikologi bernama Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intellegence, mengingatkan kita pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa ke puncak kesuksesan adalah pemimpin yang kecerdasan spiritualitas yang tinggi. Mereka adalah orang-orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami orang lain dengan baik, terinsipirasi oleh visi, mengenali dirinya dengan baik, dan mengupayakan yang terbaik bagi orang lain yang dipimpinnya.

Karakter kepemimpinan yang disebutkan oleh Danah Zohar bukanlah sesuatu yang utopis. Jakarta beruntung sempat dipimpin oleh Ali Sadikin. Karakter tegas sebagai pensiunan Jenderal Korps Komando Angkatan Laut tidak menjadikannya serta-merta sebagai orang yang arogan dan tempramen. Baginya mendisiplinkan bawahan adalah sebuah keharusan, namun prinsip yang dipegang teguh adalah melindungi dan menyejahterakan rakyat. Dengan begitu nama Bang Ali Sadikin tetap harum dan dirindukan hingga kini.
Mari kita berdoa dan berupaya agar Jakarta mendapatkan pemimpin yang penuh cinta.