Eddy Soeparno

Korporasi Berbasis Komersial, Partai Berbasis Sosial

EddySoeparno_dariBisnisKePAN

Maka kabar pada awal Puasa itu (18 Juni 2015) meresmikan apa yang menjadi rencana, bukan sekadar wacana: akhirnya Sekjen PAN Eddy Soeparno (ES) mengundurkan dari pos Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR).

Di sana ES bekerja sebagai profesional sejak 2011 (lihat: Profil). Kini ES semakin berkonsentrasi untuk partai.

Berikut ini petikan pendapat ES tentang organisasi bernama perusahaan dan partai.

Nilai-nilai dalam korporasi dan partai

Sebagai organisasi, korporasi memiliki basis komersial untuk mencari keuntungan bagi para pemegang sahamnya.

Di lain pihak, partai sebagai oragnisasi berbasis sosial hadir untuk memperjuangkan aspirasi kader dan para pemilihnya.

Itulah perbedaan mendasar dari korporasi dan partai. Namun demikian, prinsip-prinsip pengelolaan organisasi yang berlaku secara universal juga berlaku pada korporasi maupun partai. Misalnya: ketaatan, kepatutan, kehati-hatian, dan hierarki organisasi.

Perbedaan langkah korporasi dan partai

Jelas, korporasi mencari keuntungan dengan mengelola dan menginvestasikan modal pemegang sahamnya, untuk mendapatkan keuntungan yang setinggi-tingginya.

Itu sebabnya struktur dan manajemen korporasi memiliki sejumlah fungsi utama yang mendukung kegiatan tersebut, seperti fungsi keuangan, komersial, produksi/operasi, dan manajemen risiko.

Sedangkan partai beda lagi. Sebagai organisasi nonkomersial yang berbasis kader, partai memperjuangkan aspirasi konstituen.

Untuk itu partai secara struktural memiliki badan perkaderan, badan pemenangan pemilu, dan badan-badan lainnya yang langsung bersinggungan dengan masyarakat — misalnya badan advokasi dan perjuangan rakyat atau badan pemberdayaan perempuan.

Dinamika korporasi dan partai

Umumnya korporasi memiliki “rules & regulation” dan “business process” yang jelas, rinci dan baku, sehingga pengelolaan korporasi dilakukan secara efisien, terencana dan terukur, sejalan dengan sektor usaha yang digelutinya.

Kalau partai, dinamikanya lebih tinggi, seolah tak baku-kaku. Konsekuensinya adalah banyak peraturan dan ketentuan yang lahir sejalan dengan dinamika yang dilaluinya, dengan mengacu kepada AS/ART parpol tersebut.

Tugas adalah amanat dan tantangan

ES bertransformasi dari dunia bisnis (korporasi) ke sosial-politik (partai). Tak mendadak dan bukan dalam tempo singkat, melainkan bertahap melalui semacam proses magang.

Sekadar catatan: sebelas tahun silam ia tinggalkan pekerjaannya di ABN AMRO Bank Indonesia agar dapat membantu tim Amien Rais dalam kampanye calon presiden 2004

Maka inilah tuturan ES tentang jabatan dan pekerjaannya:

“Tugas saya ke depannya adalah menerapkan sistem, proses, dan prosedur yang dapat mendukung serta membimbing partai mengarungi dinamika politik, agar organisasi partai dapat bekerja secara efisien, tertata dan teratur, pruden dan akuntabel, sehingga dapat menjalankan kegiatan sesuai dengan tujuan yang ditargetkan.”

Ia garis bawahkan,

“Ke depannya, sikap, kinerja, dan profesionalitas para kader PAN merupakan cerminan dari manajemen organisasinya.”