Eddy Soeparno

Kembangkan Industri untuk Ciptakan Iklim Investasi

Sejak dimulainya era reformasi tahun 1998 silam, mulai dari Presiden BJ Habibie hingga Presiden Jokowi, Indonesia dinilai belum bisa keluar dari krisis ekonomi. Berbagai upaya dilakukan, baik jangka menengah maupun jangka panjang, untuk mengembalikan kejayaan Indonesia seperti tahun 80an. Banyak faktor yang membuat ekonomi Indonesia tidak dalam kondisi menggembirakan. Harga minyak yang elastis, bangkrutnya ekonomi Yunani yang mengakibatkan krisis global, dan menguatnya Dollar Amerika Serikat (USD) menjadi alasan mengapa ekonomi kita belum bisa bangkit.

Ditambah lagi, utang negara saat ini begitu banyak sementara penerimaan negara, terutama di sektor pajak belum maksimal, dan kondisi ini membuat iklim investasi di Indonesia menjadi tidak baik. Sementara, banyak perusahaan tutup dan mem-PHK karyawannya yang membuat angka kemiskinan dan pengangguran bertambah banyak. Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasinya masalah ini dengan merilis Paket Kebijakan Ekonomi yang fokus memperbaiki iklim investasi dari mulai regulasi dan pajak, serta memperkuat UMKM agar perekonomian di kalangan menengah ke bawah kembali hidup.

Untuk ‘menggenjot’ pemasukan negara, pemerintah memberlakukan tax amnesty dan pemotongan anggaran. Upaya ini diharapkan bisa menyeimbangkan neraca finansial negara dan bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi yang sudah dicanangkan. Namun, meski bertujuan baik, kedua program tersebut harus lebih mendetail dan akurat dalam pelaksanaannya.

Seperti yang dikatakan Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno yang menilai kebijakan tax amnesty harus dibarengi dengan tax reform (reformasi pajak). Karena ia menilai program ekstensifikasi dan intensifikasi pajak selama ini belum optimal dan di saat yang bersamaan penerimaan negara dari komoditas ekspor anjlok, dampaknya sangat terasa saat ini di sisi penerimaan negara.

Eddy juga menyarankan agar sektor perindustrian terus ditingkatkan karena Indonesia tidak bisa terus bergantung pada sektor sumber daya alam, khususnya batu bara, mineral, migas dan hasil perkebunan. Salah satu industri yang harus mendapat perhatian adalah Industri manufaktur yang mampu menyumbang hampir seperempat produk domestik bruto. Bahkan, tren pertumbuhan sektor industri manufaktur Indonesia tetap positif. Merujuk pada data dari Organisasi Pembangunan Industri PBB saat ini Indonesia masuk dalam 10 besar industri manufaktur di dunia.

Adapun industri manufaktur Indonesia dibedakan menjadi 4 jenis berdasarkan kegiatannya, antara lain aneka industri, yaitu jenis produksi yang menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat, industri logam dasar, industri kimia dasar, dan industri kecil yaitu jenis kegiatan industri dengan teknologi sederhana yang hasil produksinya terbatas. Ia juga memprediksikan, industri manufaktur di Indonesia akan membaik dan mengalami perkembangan yang signifikan. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya para investor yang masih mempercayakan potensi dan iklim investasi di Indonesia. Mari, dukung industri manufaktur sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Alasan putra daerah Cirebon, Jawa Barat, ini sangat beralasan. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,3% per tahun, Indonesia perlu mengembangkan potensi yang ada. Sektor Industri merupakan sarana terbaik untuk mecari investor agar menanamkan modalnya di Indonesia. Sebab, jika target tidak tercapai dan iklim investasi tidak juga membaik, maka berpotensi meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran, serta kesenjangan akan makin melebar.

Oleh M. Harera