Eddy Soeparno

Kejayaan Indonesia dan Jalan Pendidikan

Sebagai sebuah negara-bangsa kita tentunya harus memahami arti penting kelahiran dan keberadaan kita secara moral historis. Indonesia adalah sebuah pertemuan dari segenap cita-cita mulia yang sama dari anak-anak bangsa yang berbeda etnis, bahasa, agama dan status sosial. Mereka dipersatukan oleh cita-cita bersama, yakni kemerdekaan, kehormatan sebagai manusia yang sama-sama mahluk Tuhan, keinginan hidup bahagia dan layak, serta kesejahteraan sosial.

Kita memahami bahwa sejak awal berdirinya negara-bangsa ini, cita-cita kebangsaan dan kemanusiaan berupa semangat universalitas anti-penindasan tak hanya terbatasi oleh sekat-sekat teritori yang sempit. Justru nasionalisme kita lahir tumbuh dan besar dari taman sarinya internasional. Begitulah ucapan Ir Soekarno atau Bung Karno, guru bangsa, proklamator dan presiden pertama yang kita cintai dan selalu banggakan. Sehingga, sebagai sebuah negara-bangsa yang cinta akan kemerdekaan dan anti penjajahan, kolonialisme dan imperialisme, kita pun aktif untuk berperan dalam agenda-agenda perdamaian, solidaritas dan pembangunan internasional.

Negara-bangsa Indonesia dan peran-peran geopolitiknya, dengan segala kekayaan sejarah, nilai-nilai sosial-ekonomi serta dinamika politik strategis yang dimilikinya, adalah sebuah ‘sesuatu’ – meminjam istilah yang saat ini populer di kalangan anak muda. Ke-sesuatu-an ini bisa dilihat dari betapa Indonesia yang dulu kerap disebut sebagai nusantara telah menjadi tujuan dan sasaran berbagai bangsa dari berbagai belahan dunia untuk didatangi, didiami bahkan ditaklukkan untuk kemudian dijajah.

Mari kita bijak memahami sejarah, betapapun pahit dan kelamnya masa lalu yang pernah dialami sebuah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengakui secara jujur sejarah yang pernah ia jalani. Terkadang, ia berada dalam pusaran sejarah yang benar, terkadang ia tak luput dari melakukan kesalahan. Terpenting dari itu semua adalah sebuah bangsa tak boleh menutupi, atau bahkan membantah dan memanipulasi kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan. Itulah syarat menjadi bangsa besar. Setiap bangsa, layaknya setiap manusia dewasa yang bijak dan meraih kesuksesan, selalu belajar dari situasi, pengalaman, kebaikan dan kesalahan yang pernah ia lakukan. People learn. Pada titik ini reformasi dan rekonsiliasi menjadi penting.

Perjalanan bangsa ini adalah ibarat sebuah catatan perjuangan yang tak berhenti karena itulah makna kehidupan sesungguhnya. Kontras di alam yang begitu tenang: pantai landai berpasir putih, ombak yang bergulung gagah, lautan indah dan kedalamannya yang begitu kaya, langit biru terhampar, gunung dan sawah yang hijau nan mempesona, sungai mengalir sambung-menyambung, hutan tropis yang rimbun dan membuat teduh. Namun di saat yang sama kesemuanya juga menyimpan ancaman bencana dan kehancuran yang diam-diam mengintai. Gunung berapi, banjir, tsunami dan gempa bumi menjadi catatan tersendiri yang kerap menemani keindahan alam nikmat Tuhan yang tiada tara ini.

Kondisi ini membuat kita sebagai bangsa memiliki kecenderungan yang tinggi untuk menjadi lebih relijius, spiritualis dan memahami keterbatasan kita sebagia manusia serta ketergantungan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kita menjadi bangsa yang ‘guyub’ dalam relasi sosial yang berlandaskan komunalitas dan gotong royong. Karena kita tahu kita tidak bisa menghadapi takdir ketidakpastian alam ini secara individu sendiri-sendiri. Kita harus bersama, kolektif, bersatu, sehingga kita kuat dan saling menguatkan.

Kekayaan kita sebagai sebuah bangsa sejatinya tidak ternilai. Sungguh fantastis. Saya rasa kita semua paham akan kondisi sumber daya alam (tangible) dan potensi kekayaan sosial (intangible) kita yang sungguh berlimpah. Problemnya, saat ini kita mengalami situasi di mana keterbelakangan dan kemiskinan begitu massif terasa dan terlihat. Meskipun kemerdekaan politik sudah kita raih sejak 71 tahun yang lalu, namun kemerdekaan sosial ekonomi dan kemakmuran seluruh rakyat masih jauh dari merata.

Saya melihatnya dari problem pendidikan yang cukup menyedihkan. Sumber daya manusia sejauh ini belum memuaskan, apalagi menggembirakan. Sistem dan kualitas pendidikan kita buruk dan yang paling dirugikan adalah rakyat, lebih khusus lagi para generasi muda, anak-anak bangsa penerus kepemimpinan kita.

Kita saksikan akhir-akhir ini telah terjadi banyak persoalan moral, politik, sosial ekonomi, hukum dan problem di berbagai sektor kehidupan kita. Biang keladinya adalah buruknya pemahaman, budi pekerti, tanggung jawab dan kesadaran kita sebagai bagian dari masyarakat. Situasi ini juga menunjukkan lemahnya kualitas sumber daya kita sebagai individu dan sebagai komunitas berbangsa.

Terjadinya tragedi pemerkosaan, pembunuhan, aksi-aksi kejahatan maupun konflik sosial adalah persoalan buruknya strategi kesadaran berkemanusiaan dan secara lebih luas aspek pendidikan warga bangsa. Kemiskinan, pengangguran, perilaku korupsi dan stagnasi ekonomi yang semata mengandalkan sumber daya alam adalah bentuk ketidakmampuan ‘human capital’ kita sebagai bangsa untuk memperbaiki diri dan berproduksi lebih baik serta kreatif bermanfaat bagi sesama dan berkelanjutan untuk semesta alam. Pendidikan adalah kunci dan di situlah sesungguhnya esensi revolusi mental itu berada.

Era pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres JK adalah momentum pembenahan dan penataan untuk Indonesia yang lebih baik. Setengah lebih dari rakyat Indonesia saat ini tinggal di pedesaan, sisanya di perkotaan. Namun wajah keduanya, baik desa maupun kota, masih saja penuh dengan kesemrawutan dan ketidakterurusan. Dari Aceh sampai Papua dan 220 juta rakyat Indonesia, kemiskinan dan ketertinggalan masih sangat tinggi. Kita harus mulai membangun kembali negara-bangsa ini mengikuti takdir kejayaan dan kekayaan alamnya yang berlimpah. Sekaya apapun kita jika tidak menyadari kekuatan kita sebagai bangsa, jati diri kita, maka mustahil kita bisa maju dan tangguh.

Akibatnya, kita terpecah dan mudah dipecah. Kita cenderung tertinggal dalam etos kerja dan kapasitas keahlian serta pengetahuan secara merata. Bangsa Indonesia butuh strategi dan jalan pendidikan yang lebih baik, lebih revolusioner, untuk mewujudkan Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, lebih besar dan lebih makmur. Setelah reformasi dan rekonsiliasi, saat ini mungkin kita butuh transformasi.

Wallohu’alam bisshowab

Salam

Eddy Soeparno