Eddy Soeparno

Kawan Saya Wartawan “Galau” Lihat Sekjen PAN

“Serius, itu Sekjen PAN?” tanya teman saya saat mengikuti Diskusi Publik Fraksi PAN tentang Tax Amnesty di Gedung Parlemen, 20 April 2016 yang lalu. Ya, kawan dari salah satu jurnalis Harian Ekonomi Nasional itu sedikit heran tak percaya jika seorang Eddy Soeparno (ES) adalah Sekjen Partai Amanat Nasional, besutan Pejuang-pejuang Spartan Reformasi 98, yang salah satunya adalah Prof. Amien Rais.

Kawan saya menasbihkan Mas Sekjen ES sebagai sosok pria ganteng, cerdas, charming bin menawan, dan modis. Beda dengan anggapan Sekjen Partai selama ini yang harus ‘pintar’ mengolah alias ‘bermain’ dalam mengencangkan ‘amunisi’ Partai. Wajar sih, dia cewek. Kalau yang bilang cowok, bisa jadi doi LGBT.

Jawaban cerdas mengalir dari mulutnya. Kata Mas Eddy, untuk mencari sumber penerimaan negara yang lain dengan pembahasan UU Tax Amnesty (UUTA) pun punya problem antara lain, UUTA dianggap sebagai jalan ‘membersihkan’ dosa-dosa pengemplang pajak bahkan koruptor buronan di luar negeri. Berikutnya, UUTA tak cerminkan asas keadilan khususnya wajib pajak (wp) patuh.

Dijelaskan mantan direktur keuangan perusahaan Bakrie Groups ini, dana WNI di luar negeri sambungnya, dari data Menkeu RI sebesar Rp 11, 400 Triliun, data McKinsey sekitar USD 300 Milyar. Asumsi Tax Amnesty dalam APBNP 2016 berkisar Rp 60-80 Triliun dan capital inflow Rp 200 Triliun. Mas Eddy mengkhawatirkan ekspektasi yang terbangun pada ‘manfaat’ tax amnesty terlalu besar terhadap penerimaan negara maupun capital inflow ini.

Teman saya benar dengan penilaiannya. Selama ini kami para wartawan mengenal sosok Sekjen Partai adalah politisi senior, yang bisa dibilang sudah mencapai kelas ‘pemain’ dalam belantika dunia politik. Sementara Mas Eddy, masih cukup bau ‘kencur’ dalam dunia politik praktis. Bahkan diakui sendiri olehnya, kalau ia satu-satunya Sekjen Partai Politik yang bukan orang Partai.

Memang interaksi ia dengan PAN sudah lama. Sejak Mas Eddy mengenal Pak Amien sekira tahun 2001. Saat itu Dedengkot Reformasi itu menjadi Ketua MPR RI, dan Mas Eddy masih berkubang di dunia Perbankan.

Baru pada 2004, Mas Eddy bersentuhan intens dengan Pak Amien. Saat itu beliau maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2004. Mas Eddy meninggalkan pekerjaannya di perbankan untuk membantu kampanye politik Pak Amien.

Dan pada Kongres PAN 2015 lalu, dimana Zulkifli Hasan terpilih sebagai Ketua Umum, Pak Amien merekomendasikan Mas Eddy untuk mengemban amanah sebagai Sekjen PAN 2015-2020. Tentu ada sesuatu yang istimewa dari Mas Eddy. Menjadi Sekjen Partai Menengah ke atas di Indonesia tidak mudah. Sekjen adalah posisi strategis di Partai Politik. Terlebih PAN, partai yang dinamikanya cukup kencang, intriknya menggelitik, dan tarik menarik kepentingannya begitu keras.

Mas Eddy yakin ke depannya dapat mengelola PAN dengan lebih baik sebagai partai modern. Ia punya sejarah panjang di dunia perbankan. Sebelum bergabung dengan Bakrie Group pada Juli 2008, dirinya telah malang-melintang 20 tahun di dunia perbankan, termasuk di Singapura dan Hong Kong. Eddy juga aktif di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).

Peraih gelar Master bidang hukum dari Universitas Indonesia itu pun pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan di Merrill Lynch, bank investasi asal Amerika Serikat. Sejak Juni 2009, Eddy dipercaya sebagai Direktur Keuangan Bakrie & Brothers.

Ah, kalau sudah begitu, bukan teman saya yang perempuan saja yang terpesona dan galau tingkat kelurahan melihat kiprah Mas Eddy. Ups. Sumpah saya masih normal, lho.

 

Oleh Haidar Fahda