Eddy Soeparno

Jokowi dan Gairah Industri Kreatif Digital

BULAN Februari 2016, di tengah padatnya jadwal mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN – AS di California Amerika Serikat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) datang ke Silicon Valley, San Fransisco, Amerika Serikat. Kunjungan ke markas perusahaan-perusahaan digital terbesar di dunia tersebut  menebus batalnya rencana Jokowi pada Oktober 2015. Meski hanya singkat, kunjungan setengah hari tersebut sangat ditunggu-tunggu  insan-insan industri kreatif di Indonesia.

Jokowi datang ke markas Google, Twitter, Plug and Play bukan sekadar say hello kepada anak-anak muda Indonesia yang bekerja di tempat tersebut. Ia ‘menodong’ perusahaan-perusahaan yang akrab di telinga masyarakat kita itu untuk membantu Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Kunjungan seorang presiden ke pusat industri kreatif digital dunia ini  setidaknya memberikan jaminan bagi penggerak industri kreatif di Indonesia akan komitmen pemerintah.

Keinginan menggebu Jokowi terhadap masa depan industri kreatif di Indonesia khususnya industri kreatif digital bukan mengada-ada. Ini adalah jenis industri di masa depan yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di era kepemimpinan Jokowi adalah salah satu keseriusannya menggarap potensi ekonomi kreatif. Setidaknya ada 15 subsektor yang masuk dalam kategori industri kreatif, yakni Periklanan (Advertising), Arsitektur, Pasar Barang Seni, Kerajinan (Craft), Desain, Fesyen (Fashion), Video, Film dan Fotografi, Permainan Interaktif (Game), Musik, Seni Pertunjukan (Showbiz), Penerbitan dan Percetakan, Layanan Komputer dan Piranti Lunak (Software), Televisi dan Radio (Broadcasting), Riset dan Pengembangan serta Kuliner.

Kedatangan Jokowi untuk menemui CEO Google, Twitter, Plug and Play di Silicon Valley adalah untuk melesatkan industri kreatif digital di Indonesia. Secara sederhana, industri kreatif digital memiliki pengertian sebagai industri yang memadukan antara teknologi informasi (digital) dan unsur kreativitas di dalamnya.

Saat ini data potensi ekonomi digital Indonesia bisa dilihat dari nilai transaksi e-commerce yang sangat besar. Tahun 2013, nilai transaksi e-commerce tercatat sebesar 8 miliar dollar AS atau setara Rp 107,9 triliun. Di 2014 angka ini berkembang hingga 12 miliar dollar AS atau setara Rp 161,9 triliun. Nilai transaksi tersebut diprediksi bakal terus meningkat hingga mencapai 24,6 miliar dollar AS atau setara Rp 331,9 triliun pada 2016.

Keseriusan pemerintah dalam menggarap industri kreatif digital salah satunya ditunjukan dengan meluncurkan Roadmap E-commerce Nasional dengan nilai 130 miliar dolar AS. Salah satu caranya dengan menciptakan 1.000 technopreneurs dengan nilai bisnis mencapai 10 miliar dolar AS pada tahun 2020.

Di Indonesia ada 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta pengguna perangkat telepon pintar. Pada tahun 2020, diperkirakan pengguna internet sudah mencapai 219 juta, sementara pengguna smartphone akan berjumah 92 juta, sungguh suatu peningkatan dan angka yang fantastis. Potensi ekonomi yang dimiliki industri digital di Indonesia sangat besar dan merupakan cikal bakal ekonomi raksasa yang mampu menyaingi industri tradisional seperti manufaktur, logistik dan lain-lain. Analist dari Ernst & Young mendata pertumbuhan nilai penjualan bisnis online di tanah air setiap tahun meningkat 40 persen. E-commerce hanya satu dari sekian banyak dari potensi industri ekonomi kreatif digital. Masih ada game developer, animasi, dan lainnya yang saat ini terus berkembang di Indonesia.

Potensi yang demikian besar di dunia industri kreatif digital terutama e-commerce rupanya mendorong e-commerce dari luar negeri mengincar Indonesia sebagai pasar. Dengan jumlah penduduk di kisaran 250 juta, sementara pengguna internet semakin meningkat setiap tahunnya, Indonesia adalah pasar empuk. Apalagi jika melihat kebiasaan masyarakat yang kian menyukai belanja online dan memanfaatkan berbagai kemudahan yang ditawarkan era transformasi digital dewasa ini.

Salah satu bukti berkembangnya ekonomi kreatif digital adalah tumbuhnya  banyak startup atau perusahaan rintisan digital. Muncul anak-anak muda dengan ide brilian yang melahirkan usaha-usaha kreatif. Banyak anak muda yang memilih industri kreatif digital sebagai pilihan menjadi entrepreneur atau wirausaha.

Keinginan Jokowi untuk menciptakan 1.000 technopreneur serta mengembangkan industri kreatif digital harus ditangkap oleh anak muda. Kita  percaya industri kreatif digital akan memberikan solusi bagi persoalan-persoalan antara lain, tenaga kerja yang ada di Indonesia. Kesuksesan startup di Indonesia sebut saja Gojek, Bukalapak, atau Kaskus berangkat dari persoalan yang kita hadapi sehari-hari dan bertujuan memberikan solusi dan kemudahan bagi masyarakat. Maka jika melihat di Indonesia masih banyak masalah, ini sebenarnya peluang anak muda mengambil peran, memberikan solusi melalui penguasaan dan inovasi teknologi. Kita pasti bisa.