Eddy Soeparno

Isu SARA Memundurkan Demokrasi Indonesia

Jelang Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, isu SARA telah dijadikan komoditas politik yang terus disajikan demi mendulang simpati dan suara pemilih. Masing-masing kubu pendukung tidak lagi fokus pada kesenjangan sosial dan visi misi dari masing-masing calon, melainkan sibuk membuat kampanye hitam. Tentu, hal ini dilakukan untuk merugikan salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Apabila isu SARA ini terus didengungkan, maka kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017 ini dipastikan akan buruk dan mengalami kemunduran demokrasi. Padahal, sebagai barometer bagi pilkada di daerah-daerah lainnya, kesuksesan Pilkada DKI Jakarta sangat penting untuk memperkokoh kekuatan demokrasi di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno menyatakan turut prihatin dan sedih dengan kondisi politik di Jakarta. Kontestasi Pilkada DKI Jakarta seharusnya bisa menjadi ajang untuk menyerukan kerukunan dan persatuan masyarakat Jakarta yang berasal dari beragam suku, ras, etnis, dan agama.

Eddy juga menyayangkan kampanye hitam yang dipertontonkan di video kubu pendukung pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat. Pada video tersebut, digambarkan seolah mereka yang memakai sorban dan peci adalah mereka yang suka berbuat anarkis, membuat kerusakan dan mencari masalah dengan bangsa Tionghoa. Hal seperti ini tentu tidak layak menjadi tontonan publik sebab dalam kampanye seakan digambarkan Islam hadir sebagai perusak. Jika dibiarkan, tentu akan menyakiti mereka yang beragama Islam.

Oleh sebab itu, Eddy menghimbau agar masyarakat Jakarta untuk lebih cerdas dan dapat menilai segala persoalan yang ada di Jakarta secara objektif. Terlebih masalah-masalah yang bermunculan sejak Pilkada diselenggarakan.

Dengan penilaian dan pola pikir yang cerdas tersebut, Eddy berharap ke depan tidak ada lagi kesalahpahaman yang dapat menyebabkan disintergrasi bangsa. Iklim politik yang teduh, santun, dan kondusif harus tetap dijaga agar demokrasi di negeri ini tidak terciderai oleh ambisi sesaat.

Isu SARA sejatinya hanyalah menyesatkan masyarakat Jakarta. Dengan menggunakan isu tersebut, masyarakat tidak lagi mendapatkan informasi yang jernih dan objektif. Jika diteruskan, lalu bagaimana kita bisa menghargai Pancasila yang hadir sebagai ideologi bangsa? Pancasila yang menyerukan kita untuk terus hidup dalam kerukunan dan bersatu dalam keberagaman.

[fit]