Eddy Soeparno

Indonesia dan Gagasan Politik Anak Muda

Saat ini, anak muda Indonesia memiliki kesempatan yang terbuka luas untuk mengembangkan segala potensi dan keahlian yang dimiliki. Kemunculan dan keterbukaan informasi serta teknologi menjadi salah satu faktor kemudahan anak-anak muda Indonesia untuk melebarkan segala ide kreatif dan semangat juang yang melekat dari para leluhur pendahulu.

Kesempatan baik ini tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Anak-anak muda Indonesia harus memanfaatkan kesempatan baik ini untuk saling fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Gagasan dan ide-ide dari anak muda tentu menjadi faktor utama terjaganya Indonesia dari para penjajah yang bisa saja datang sewaktu-waktu, juga penting untuk meluruskan segala kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil, sembrono dan menindas rakyat kecil seenaknya. Namun, apakah ide dan gagasan yang tercipta dari “tempat nongkrong” atau sekadar saat ngopi bersama itu bisa diimplementasikan untuk cita-cita besar seperti menjaga keutuhan NKRI dan meratakan kesejahteraan sosial?

Jawabannya, tentu tidak! Akses untuk mengimplementasikan gagasan dan ide-ide tersebut pasti akan terbentur oleh berbagai faktor, terutama dari faktor finansial dan birokrasi. Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar, “kalau ada fulusnya, semua akan lancar” atau “yang penting ada orang dalam”. Pandangan seperti ini sekiranya harus segera diubah melalui aksi nyata.

Seperti yang disampaikan oleh Sekjen DPP PAN, Eddy Soeparno. Aksi nyata ini bisa melalui partisipasi aktif anak-anak muda dalam mewarnai dunia politik. Mungkin ada benarnya terkait asumsi yang mengatakan bahwa “politik itu kotor, politik itu negatif, politik itu apapun jadi benar”. Tapi tidak berarti anak-anak muda lantas takut dan khawatir dengan pandangan-pandangan seperti itu.

Justru, sebagai aksi nyata dari gagasan dan ide yang didapat dari hasil nongkrong, anak-anak muda harus melawan ketakutan yang ada dalam dirinya sendiri, yakni dengan cara memberikan kontribusi politik yang baik dan santun. Jadi, tidak ada lagi pandangan-pandangan negatif dari masyarakat terkait politik.

Disadari atau tidak, memang politik menjadi pemicu kesenjangan sosial. Selain itu, masalah-masalah ketidakadilan dan keberpihakan juga kerap terjadi karena kesalahpahaman para pemain politik yang tidak bisa memposisikan dirinya dalam peran yang ia ambil.

Namun lagi-lagi, hal itu tidak lantas menjadi alasan anak-anak muda memilih untuk apatis dengan dunia politik atau bahkan apolitis. Segala masalah kesenjangan dan penindasan kepada rakyat kecil ini akan segera teratasi dengan gagasan dan keberanian anak-anak muda. Berani untuk melawan dan berani meluruskan yang benar.

Oleh sebab itu, Eddy optimis keterlibatan anak-anak muda dalam dunia politik ke depan akan menjadikan Indonesia lebih baik dan berkeadilan. Selain itu, Eddy juga percaya identitas sejarah para pendahulu yang tidak pernah mengenal kata lelah dan dan terus berkarya bisa menjadi salah satu poin penting untuk mengembalikan semangat anak-anak muda Indonesia dalam berperan aktif di dunia politik.

[fit]