Eddy Soeparno

Idul Adha untuk Mengurai Kesenjangan Sosial

Umat Muslim Indonesia akan melaksanakan hari raya Idul Adha pada Senin, 12 September 2016. Pengambilan keputusan yang cermat dari kementerian agama dengan mengedepankan permusyawaratan antar organisasi keislaman di negeri ini telah mengambil kata sepakat yang berbasis pada tradisi keilmuan baik hisab maupun rakyat. Keputusan tersebut menurut hemat saya merupakan langkah positif yang akan berdampak bagi kehidupan keberagamaan masyarakat luas, sehingga tidak terjadi perbedaan perayaan, meskipun seandainya terjadi bukan sebuah persoalan yang perlu di besar-besarkan. Hanya saja, kemaslahatannya akan jauh lebih besar bagi umat dan bangsa jika perayaan diselenggarakan secara bersamaan.

Hari raya Idul Adha merupakan tradisi yang telah diteladankan oleh Nabi Ibrahim as., dan Nabi Ismail as. ketika ada perintah dari Allah kepada ayah dan anak tersebut untuk menyembelih sang anak (Ismail), yang mana berkat ketaatan kepada Sang Khalik, maka diganti dengan seekor domba yang gemuk dan berusia dewasa untuk dijadikan kurban. Teladan dari nabi Ibrahim ini pada akhirnya menjadi salah satu ritual ibadah bagi umat Islam yang dilakukan sekali dalam setahun, dan dilaksanakan pada bulan Dzul Hijjah atau bulan Haji.

Ibadah haji dan hari raya Idul Adha merupakan rangkaian peribadatan yang menuntut seorang Muslim untuk secara sungguh-sungguh mengorbankan kekayaan materi yang dimilikinya. Haji menyaratkan dilakukan oleh seorang Muslim yang mampu secara material dan moral, baik jasmani maupun rohani. Ibadah yang memerlukan dana tidak sedikit bagi Muslim yang tinggalnya jauh dari Mekkah al-Mukaromah, serta membutuhkan kesehatan jasmani yang prima mengingat suhu cuaca yang dapat mencapai 42 derajat celcius bahkan lebih, dan kondisi geografis berbeda dengan kebanyakan asal negara jamaah haji. Seseorang yang menunaikan ibadah haji diharapkan dapat melakukan internalisasi nilai-nilai keislaman secara kaffah. Diantaranya yakni tidak lagi membeda-bedakan manusia berdasarkan kelas sosial, ekonomi, politik, atau pun yang lainnya. Pakaian ihram merupakan simbol yang mencerminkan pentingnya kita memosisikan antar sesama dengan adil, tidak diskriminatif, dan saling menghormati satu sama lain.

Adapun Idul Adha atau hari raya kurban memerlukan jiwa kedermawan dan sikap berbagi kepada sesama umat manusia. Seorang Muslim yang sudah memiliki kemampuan disunahkan untuk berkurban seekor domba atau kambing, atau unta, sapi. Dimana kemampuan berkurban dapat dilakukan secara mandiri untuk seekor domba/kambing, sedangkan untuk unta maupun sapi dapat dilakukan secara berkelompok hingga tujuh orang untuk seekor sapi. Harga seekor kambing saat ini di kisaran 2-3 juta rupiah, sedangkan sapi berkisar 17 juta keatas. Ajaran Islam memberikan kemudahan bagi seorang Muslim untuk berpartisipasi dalam berkurban. Bukan monopoli mereka yang dianugerahi kekayaan materi berlebih, namun ada keringanan dengan diperbolehkannya secara berkelompok.

Ajaran berkurban dalam hari raya Idul Adha ini adalah sinyal bagi umat Muslim di Indonesia untuk dapat terlibat secara aktif mengatasi problem bangsa yakni kesenjangan sosial yang makin tahun beranjak terus. Angka kemiskinan kita berdasar data BPS masih berada di kisaran 11% dari total jumlah penduduk, terdapat sekitar 30 juta jiwa penduduk berkategori miskin. Angka tersebut dapat berkurang dan dapat juga bertambah, apalagi saat ini pertumbuhan ekonomi kita masih mengalami perlambatan. Di mana pertumbuhan ekonomi makro kita baru 4,7% belum mampu mencapai target yakni 5,7-6%. Oleh karena itu perlu adanya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas.

Dalam konteks Idul Adha, hemat saya organisasi-organisasi Islam perlu terlibat secara sistematis menggerakkan roda organisasi untuk dapat berpartisipasi mengatasi problem kemiskinan yang ada. Dengan keterlibatan ormas-ormas Islam, niscaya secara perlahan kesenjangan sosial dapat diminimalisir. Salah satu caranya adalah kurban. Perputaran uang dalam menyambut Idul Adha begitu besar, yang mana antara pelaku kurban yang berjumlah besar membutuhkan hewan kurban dalam jumlah yang banyak. Semestinya para peternak kambing maupun sapi yang berada di seantero negeri ini dapat menikmati hasil atas perayaan kurban yang dilakukan secara rutin tiap tahunnya. Apalagi jika dikelola dengan lebih terorganisir, rapi, terstruktur, dan sistematis akan berdampak pada naiknya pendapatan para peternak tersebut.

Saat ini pun telah dilakukan terobosan dalam pemanfaatan daging kurban. Metode pengalengan daging baik dijadikan kornet atau pun yang lainnya justru lebih berdampak bagi peningkatan ekonomi umat. Selama ini daging kurban secara umum masih sebatas dibagi dan dikonsumsi harian kepada masyarakat. Belakangan pemanfaatan daging secara lebih modern dan tetap dikelola secara syar’i justru menjadikan ekonomi umat lebih berdaya. Harapannya dengan pengelolaan yang lebih baik, kedepan perayaan kurban sangat berpotensi untuk dapat mengurai kesenjangan sosial yang ada di hadapan kita. Ikhtiar bersama yang kita lakukan akan sangat membantu program-program pemerintah. Keberagamaan kita pun meningkat tidak sekadar menambah kesalehan pribadi, namun juga berdampak pada kesalehan sosial, karena disitulah sesungguhnya peran Islam dan orang-orang Muslim diuji. Wallahu a’lam bisshawab.