Eddy Soeparno

Harapan dan Doa Terbaik Untuk Pewarta Indonesia

Keputusan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985 menyebutkan bahwa Pers mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. Presiden juga mengeluarkan Surat Keputusan Presiden nomor 5 tahun 1985 yang menetapkan setiap 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN).

Sebelum keputusan tersebut disahkan, HPN sendiri telah digodok sebagai salah satu butir keputusan Kongres ke-28 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Padang, Sumatera Barat. Dari kongres tersebut didapati sebuah kesepakatan untuk memperingati peran dan keberadaan pers secara nasional.

Hari ini, sudah 32 tahun yang lalu Hari Pers Nasional diperingati. Banyak harapan dan do’a terbaik untuk para petarung lapangan (wartawan) disajikan, baik dari para tokoh nasional dan masyarakat di Republik ini. Seperti juga yang disampaikan oleh Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno.

Menurut Eddy, para insan media di Tanah Air ini harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme, kejujuran dan kebenaran tanpa keberpihakan. Nilai-nilai tersebut tentunya adalah dasar dan prinsip seorang pemberi dan penyampai berita (wartawan). Jika nilai-nilai tersebut sudah hilang atau bahkan tergadaikan pada kaum kapitalis, maka tentu rusak demokrasi di negeri ini.

Sejatinya, demokrasi dan pers adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa saling lepas satu sama lain. Demokrasi akan maju jika pers juga menjadi bagian yang demokratis, sedangkan pers akan maju jika pers mampu berjalan secara independent dari kekuasaan.

Oleh sebab itu, Eddy menekankan bahwa selain berita yang akurat, profesionalitas, kejujuran dan kebenaran yang tidak memihak tersebut sangatlah penting untu dimiliki para pewarta.

Sekali lagi selamat Hari Pers Nasional. Semoga kedepan kolonialisme dan kapitalisme tidak membungkam kebebasan Pers Nasional.

[]