Eddy Soeparno

Etika Kebenaran dan Kesantunan Ucapan di Media Sosial

Di era digital ini, sebuah berita dengan mudah dapat menyebar dan cepat diterima masyarakat. Sayangnya, sengaja atau tidak, kemudahan akses ini terkadang dimanfaatkan sebagian orang untuk menyebarkan berita palsu (hoax) demi beragam alasan dan tujuan. Hoax merupakan usaha untuk menipu pembaca atau pun pendengar agar mempercayai pemberitaan palsu yang disebarkan dengan maksud tertentu.

Hoax biasanya dibuat untuk kepentingan bisnis, politik, atau sekadar meningkatkan eksistensi seseorang. Penyebaran berita hoax di media sosial dan aplikasi pesan telepon genggam, sangat marak dan massif dilakukan. Tidak heran jika kemudian berdampak negatif bagi masyarakat. Akibatnya, akan timbul kekerasan, kebingungan, rasa tidak aman, bahkan menyebabkan konflik suku, agama, ras antar golongan (SARA) di tengah masyarakat.

Di Indonesia sendiri, penyebaran konten bohong alias hoax dalam beberapa bulan terakhir ini dinilai telah melampaui batas dan tidak dapat diteloransi lagi. Hoax telah menjadi masalah yang dijadikan senjata bayangan untuk membunuh citra lawan politik di mata publik. Menanggapi masalah hoax yang semakin akut di tanah air ini, Presiden Joko Widodo memberikan peringatan keras dan berjanji akan menindak tegas para hoaxer yang menyebarkan berita kebohongan.

Banyak contoh kasus hoax merugikan, tidak hanya publik, tapi juga seseorang yang menjadi obyek berita palsu tersebut. Masih ingat dengan kasus teroris di kawasan Thamrin awal 2016? Saat itu muncul di sosial media tentang lolosnya seorang pelaku membawa motor dan bersenjata, bahkan ditengarahi berada sekitar kawasan Slipi dan Palmerah. Tentu, berita tersebut menimbulkan ketakutan. Publik merasa terancam. Syukurlah kemudian pihak Polri meralat berita tersebut.

Berita-berita hoax lainnya juga sering kita terima seperti adanya penampakan awan sedang berdoa di atas makam Ustadz Jefri, penampakan Ufo di blok M, dan masih banyak lagi yang lainnya. Oleh sebab itu, sebagai masyarakat yang aktif menggunakan media sosial, kita dituntut untuk lebih cerdas dan teliti lagi dalam mencerna informasi.

Menanggapi ramainya berita hoax belakangan ini, Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno menyebutkan hoax ini merupakan masalah yang layak menjadi perhatian seluruh masyarakat. Hoax sudah melampaui batas dan dapat merugikan orang lain dengan pemberitaan yang sama sekali tidak benar. Eddy juga mengajak perlunya kita berpegang pada kejujuran, kebenaran, dan mengedepankan etika tata krama.

Lebih lanjut, untuk meminimalisir penyebaran hoax, Eddy juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menjunjung tinggi kebenaran dan kesantunan ketika bertutur kata di publik, khususnya di media sosial. Dengan demikian, konflik-konflik di media sosial yang disebabkan oleh berita hoax maupun cacian antar sesama dapat teratasi.

[fit]