Eddy Soeparno

Bangun Pertumbuhan Ekonomi dengan Memaksimalkan Anak Muda dan Sektor Andalan Indonesia

Gelombang perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini dapat dikatakan cukup melemah. Awal pembukaan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I sebesar 4,92 persen dinilai kurang memuaskan lantaran menurun dari angka pada akhir tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II kemudian menghasilkan sedikit angin segar yakni berhasil tumbuh sebesar 5,18 persen.

Sayangnya, beberapa minggu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III yakni sebesar 5,02 persen. Data tersebut menunjukan perlemahan dalam pertumbuhan ekonomi nasional kembali terjadi, meski banyak yang menganggap hal tersebut masih dalam batas wajar. Namun demikian, tentu setiap warga Indonesia mengharapkan pertumbuhan ekonomi nasional senantiasa tumbuh berkembang melesat sehingga mampu membangkitkan perekonomian Indonesia yang kini sedang lesu.

Banyak argumen dan spekulasi beredar bahwasannya pemerintah tetap optimis bahwa pada pertumbuhan kuartal IV ekonomi Indonesia masih bisa bertahan di atas 5 persen. Lantas, mengapa demikian? Salah satu jawabannya adalah karena anugerah sumber daya alam yang dimiliki Indonesia dan komoditas yang melimpah lagi-lagi menjadi salah satu faktor yang menumbuhkan optimisme pemerintah bahwasannya pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai target.

Indonesia memiliki luas laut kurang lebih sebesar 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km, ditambah dengan potensi sumber daya ikan diperkirakan sebesar 6,4 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia yang terbagi dalam sembilan wilayah perairan utama Indonesia. Laut Indonesia memiliki peran geoekonomi yang sangat penting dan strategis. Sektor kelautan dan perikanan ini menjadi salah satu lahan empuk yang harus dioptimalisasi.

Laut Indonesia sedikitnya berkontribusi dalam Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih dibawah 30 persen, belum lagi sektor pariwisata, sektor konsumsi produk, sektor konstruksi yakni pembangunan infrastruktur yang terlibat. Laut Indonesia dengan milyaran komoditi perikanan merupakan lumbung pangan rakyat yang harus dimaksimalkan. Disisi lain, modal besar yang dimiliki Indonesia adalah wilayah Indonesia berada dilokasi yang strategis terhadap perekonomian raksasa Cina dan India. Dengan demikian, peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia seharusnya semakin menjanjikan.

Optimisme semakin tumbuh ketika kita sadar bahwa Indonesia memiliki populasi generasi muda yang besar dan sedang berkembang, seperti yang diungkapkan oleh Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno. Eddy melihat bahwa anak muda usia produktif dinilai sudah mampu memberikan kontribusi ekonomi melalui sejumlah aktivitas atau kegiatan produktif yang menghasilkan barang atau jasa yang berkualitas, sebutlah industri kreatif.

Sektor industri kreatif di Indonesia dalam setahun terakhir telah menyumbang Rp 642 triliun atau 7,05 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Adapun kontribusi terbesar industri kreatif berasal dari usaha kuliner sebanyak 32,4 persen, mode 27,9 persen, dan kerajinan 14,88 persen. Industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Tidak heran jika anak muda melalui pengembangan industri kreatif ini mampu mendorong perekonomian nasional.

Menurut Eddy, generasi muda Indonesia usia produktif harus terus dilatih dan dibimbing guna menghasilkan suatu karya yang berkualitas. Dengan anak muda yang aktif, kreatif dan produktif, niscaya target pertumbuhan ekonomi dapat tercapai dan masyarakat Indonesia lebih sejahtera.