Timses Prabowo-Sandi Menghormati Pilihan Politik Yenny Wahid

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sepertinya akan berlangsung seru, mengingat kedua pasangan pernah bertemu di Pilpres 2014 lalu. Sempat mengalami kekalahan 4 tahun lalu, tentu Prabowo Subianto telah menyiapkan strategi-strategi khusus yang tentunya lebih matang dari sebelumnya.

Selain melakukan ‘branding’ besar-besaran terhadap wakilnya, Sandiaga Uno, Prabowo juga menggandeng beberapa pakar ekonomi yang tak diragukan lagi kualitasnya sebagai penasihat ekonominya. Tak luput juga ia gencar mengajak tokoh-tokoh dan putra putri terbaik bangsa untuk bergabung dalam Timsesnya.

Sudah bergabung, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar seagai Juru Bicara (Jubir) nya saat ini dan beberapa waktu lalu juga mengharapkan putri mantan presiden ke empat K.H Abdurrahman Wahid atau Gusdur, Yenny Wahid ikut serta mendukung dan menjadi salah satu Timsesnya.

Namun ternyata, kemarin (Rabu, 26  September 2018) kenyataan berkata lain, Yenny mendukung pasangan Jokowi – Ma’ruf yang nyata-nyata sebagai lawan yang harus dikalahkannya. Di luar dugaan, tim kemenangan Prabowo – Sandi justru menanggapi santai atas keputusan Yenny mendukung Jokowi.

Mereka menganggap, pilihan politik adalah hak setiap warga Negara, termasuk Yenny berhak memilih siapa saya yang mau ia dukung. Koalisi Prabowo – Sandi mengaku legowo dan santai saja, mereka yakin keputusan Yenny saat ini tidak lantas membuat suara NU terpusat penuh kepada pasangan Jokowi – Ma’ruf.

Salah satu anggota Tim Pemenangan Prabowo – Sandi yang juga Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno juga menanggapi dengan santai atas keputusan keluarga Gusdur yang mendukung pasangan nomor urut 1 itu. Ia mengatakan, tidak masalah dengan pilihan politik Yenny karena meskipun berbeda namun masih memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Ia juga berpendapat pilihan Yenny itu tidak bisa dikatakan mewakili suara NU se Indonesia. Bahkan ia menyambut baik pernyataan Alissa Wahid, putri tertua almarhum Gus Dur yang menyatakan jaringan Gusdurian  tetap istiqomah tidak terlibat dalam politik praktis.

“ Orang-orangnya ya monggo menyalurkan hak politiknya sendiri. Tidak ada pengorganisasian via Gusdurian. “ tegasnya dalam akun@Alissa Wahid.

Pernyataan Alissa ini sebagai tanggapan atas pernyataan Yenny Wahid sebelumnya bahwa keluarga Gus Dur dan para pengikutnya (Gusdurian) mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019.

“Kami menyambut baik dan sangat menghargai pernyataan mbak Alissa Wahid. Saya pikir itu sesuai  dengan sikap politik Gus Dur yang pluralis,  mengayomi dan berdiri diatas semua kelompok dan golongan,” ujar Eddy Soeparno.

Bagi Eddy, sikap Politik Gus Dur itu sangat sejalan dengan apa yang diperjuangkan oleh Prabowo selama ini.  Sebagai militer profesional, Prabowo tidak pernah memandang dan membeda-bedakan orang dari latar belakang suku, politik, apalagi agamanya. Dan ia menegaskan untuk jangan pernah mempertanyakan Nasionalisme Prabowo.

Pemikiran kedua figur tentang kehidupan berbangsa dan bernegara banyak titik temunya. “ Hal itulah yang dapat menjelaskan mengapa Prabowo mempunyai hubungan personal yang cukup dekat dengan Gus Dur,”  tambahnya.

Eddy mengajak Gusdurian yang merasa punya kesamaan dan setuju dengan visi dan misi Prabowo-Sandi untuk bergabung, dan berjuang bersama. “Bangsa Indonesia yang besar ini butuh seorang pemimpin yang kuat, tegas, punya visi jauh ke depan, sekaligus sangat perhatian, dan peduli dengan  kepentingan rakyat kecil. Dan itu pada sosok Pak Prabowo-Sandi.”

 

Sumber : Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published.