Kampanye Damai Diwarnai Pelanggaran, Sekjen PAN : KPU Harus Tegas!

Beberapa hari lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar karnaval kampanye damai di Kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat, tepatnya pada Minggu (23/92018). Acara tersebut dimulai pada pukul 06.00-10.00 WIB dan diikuti oleh seluruh pasangan calon presiden dan wakil (capres-cawapres), partai politik peserta Pemilu dan beberapa simpatisan pendukung yang menyatakan deklarasi damai dalam karnaval tersebut.

Namun, dalam acara yang katanya karnaval kampanye damai itu, harus diwarnai dengan aksi Walkout (WO) yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mantan Presiden tersebut menyita perhatian lantaran dia pergi dari deklarasi kampanye damai sebelum rangkaian acara selesai.

Sekitar pukul 07:30 WIB, SBY sebetulnya masih ada di rangkaian parade. Ia duduk satu mobil dengan anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, dan Sekjen PAN Eddy Soeparno.

Namun, SBY tidak lagi terlihat saat parade selesai dan perwakilan peserta Pemilu duduk di panggung arena Monas. Ternyata, SBY pergi saat parade melintasi Jalan Medan Merdeka Barat. Dia meninggalkan acara bersama Ketum PAN sekaligus Ketua MPR, Zulkifli Hasan.

Alasan SBY turun dan WO ialah karena kesal dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kekesalan itu berawal saat SBY melihat ada banyak sekali aturan main yang tak disepakati. Mantan Presiden dua periode tersebut marah karena tidak bisa menerima banyaknya bendera dan atribut partai serta pendukung pasangan calon presiden-wakil presiden, terutama dari pihak Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Ia menganggap itu tak sesuai ketentuan. Ia menganggap banyak pendukung Jokowi-Ma’ruf membawa atribut di luar yang disediakan KPU.

Bagi SBY, acara yang katanya kampanye damai itu mestinya tidak dinodai dengan hal-hal semacam ini. SBY meminta semua pihak memperbaiki sikap ke depannya hingga tidak ada peraturan lagi yang dilanggar. Lebih dari itu, SBY meminta kampanye pemilu inibisa dijalankan dengan damai jujur adil juga langsung, juga tentunya bebas dan rahasia.

Menanggapi hal tersebut, Eddy Soeparno memahami perasaan Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memutuskan meninggalkan acara Deklarasi Kampanye Damai tersebut.  Apalagi, Eddy mengaku menyaksikan langsung apa yang dialami SBY. Eddy bersama Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan satu mobil golf dengan SBY beserta Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat karnaval acara deklarasi kampanye damai itu.

Menurut pengakuan Eddy Soeparno, pihaknya dan rombongan memang merasa kecewa karena sejak keluar dari pintu depan Istana Merdeka, ada gerakan massa yang bangun posko di sana dan gerakan massa itu memang sengaja mengelilingi golf car.

Menurut dia, SBY menilai ada pelakuan tidak adil dalam acara tersebut. Selain itu, ada yel-yel yang cenderung provokatif terhadap golf car yang ditumpangi oleh Eddy Soeparno, SBY, Zulkifli Hasan dan AHY. Akhirnya, rombongan tersebut turun dari mobil golf karena merasa tidak nyaman dengan aksi yel-yel yang cenderung provokatif.

Namun, saat itu Eddy mengaku bersama Zulkifli Hasan memutuskan untuk kembali ke lokasi acara di dalam sekitar Monas. Ia juga mengaku telah menyampaikan keluhan tersebut kepada komisioner KPU.  Eddy berharap, KPU bisa tegas dan komitmen atas peraturan yang telah dibuatnya sendiri.

Pada dasarnya, memang sudah semestinya KPU tegas pada peraturan yang sudah dibuatnya sendiri. Disamping itu, KPU juga perlu menindak siapa saja yang melakukan pelanggaran. Coba kita bayangkan, kalau pada acara kampanye damai saja sudah dinodai dengan cara-cara yang tidak bijak, bagaimana pada pelaksanan kampanye-nya?

Selain itu, KPU juga harus konsisten memberikan sanksi pelanggaran terhadap siapa saja yang melanggarnya. Jangan pilih-pilih. Kalau pendukungnya Prabowo-Sandi akan ditindak, tapi kalau pendukungnya Jokowi-Ma’ruf, biasa saja. Ngga masalah!

Sumber : Kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.