Nilai Tukar Rupiah Terus Naik, Ini Kata Sekjen PAN

Hingga Rabu, 5 September 2018 pukul 17.00 WIB, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melonjak naik menembus angka Rp 15.025. Fantastis. Padahal untuk mengantisipasi hal itu, Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,5%. Namun semua usaha tersebut belum berdampak terhadap penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar.

Melemahnya Rupiah ini tentu dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, misalnya saja inflasi Indonesia akan naik melalui kenaikan harga-harga barang impor. Seperti diketahui, Indonesia saat ini masih bergantung dengan barang impor, khususnya bahan baku dan barang-barang modal.

Inflasi yang tinggi akan menyebabkan tertekannya daya beli masyarakat, khususnya masyarakat yang pendapatannya kecil. Dampak negatif lain jika Rupiah melemah yakni menimbulkan ketidakpastian bagi dunia usaha.

Masalah ini tentu memancing respon dari berbagai kalangan, baik dari politisi, pakar ekonomi, pengusaha, bahkan sampai masyarakat umum. Tak bisa disalahkan memang karena nilai Rupiah yang melemah hingga level Rp 15.000-an ini memprihatinkan dan menimbulkan kekhawatiran. Bayang-bayang krisis moneter tahun 1998 kembali terngiang di benak segenap rakyat Indonesia.

Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno juga mengungkapkan kekhawatirannya. Menurutnya, masalah ini adalah masalah yang serius karena bukan hanya masalah pemerintah saja namun masalah bersama, masalah bangsa.

“Keprihatinan terhadap kurs dolar yang melonjak tajam tentu kita rasakan, apalagi sampai tembus ke angka Rp 15.000. Ke depan apa yang perlu dilakukan? Apakah dengan mengurangi proyek-proyek infrastruktur yang tidak prioritas? Atau mengurangi impor?” ungkapnya.

Ia juga merasa sebagai bagian dari Indonesia tak mau tinggal diam dan ikut memikirkan bagaimana solusi yang terbaik. Ia bahkam tidak secara langsung menyalahkan pemerintah dan lebih memilih ikut memikirkan bagaimana cara mengembalikan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar kembali stabil.

“Ini bukan hanya concern pemerintah saja, tetapi concern kita semua. Tentu kita ingin ikut mengambil peran agar tercipta solusi terbaik,” katanya.

Berbicara soal krisis ekonomi, masyarakat Indonesia pasti ingat dengan krisis ekonomi global pada tahun 1998 dan 2008. Mendengar kata-kata krisis tentu membuat trauma bangsa ini kembali muncul karena ada pengalaman pahit disana. Bagaimana orang tua mereka kena PHK atau anak-anak banyak yang putus sekolah karena mahalnya biaya.

Eddy juga menjelaskan krisis tersebut telah memporak-porandakan perekonomian negara-negara di dunia tak terkecuali Indonesia. Namun, krisis itu telah berlalu dan kita semua bisa melewatinya. Bahkan perekonomian justru tumbuh karena strategi kebijakan yang tepat diambil pemerintah saat itu.

“Krisis ekonomi yang pernah kita alami tentu jangan sampai kita alami lagi. Kita percayakan saja kepada pemerintah saat ini pasti bisa mengatasi karena cadangan devisa serta fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat. Toh ini juga menjadi keprihatinan kita bersama,” jelasnya.

Pemerintah sendiri hingga saat ini sedang melakukan langkah-langkah strategis untuk mencegah naiknya nilai tukar Rupiah ke angka yang semakin tinggi. Strategi itu misalnya memperbaiki transaksi berjalan dengan menggenjot ekspor dan investasi di dalam Negeri.

Sumber : Kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.